PURWOREJO - Bunga Bugenvil atau sering dikenal dengan bunga kertas memiliki kharisma tersendiri bagi para pecintanya. Salah satu desa di Kabupaten Purworejo yaitu Desa Tunjungan, Ngombol, Purworejo ini dikenal dengan Kampung Bunga Bugenvil.
Di desa tersebut terdapat 28 green house yang semuanya membudidayakan bunga Bugenvil. Desa tersebut kini menjelma menjadi Kampung Bunga Bugenvil sekaligus menjadi wadah bagi para pemuda untuk berkarya dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Ketua pengelola Desa Wisata Tunjungan Ihsanudin, 52, menyebut Kampung Bunga Bugenvil itu sudah ada sejak 10 tahun lalu. "Bermula dari sebuah inisiatif sederhana karena banyak warga yang menanam macam-macam tanaman hias di pekarangan rumah masing-masing," ujarnya Senin (9/9).
Baca Juga: Pelaku Sodomi Anak di Bawah Umur Ngaku Dulunya Korban, Perdaya dengan Kopi Campur Obat Penenang
Baca Juga: Srikandi dalam Mahabharata: Kisah Androgini dan Perubahan Gender yang Misterius
Baca Juga: Kisah Reinkarnasi Dewi Srikandi dan Bisma: Dendam yang Berakhir Tragis
Berjalannya waktu, tanaman hias tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan atau masyarakat yang melintas. Semakin lama, warga banyak yang menanam bugenvil sampai akhirnya desa tersebut dikenal dengan julukan Kampung Bunga Bugenvil.
"Dari situ, dijadikan lah peluang usaha oleh masyarakat khususnya para pemuda," sebutnya. Mereka kemudian membuka green house untuk melayani wisatawan yang datang. Pun, memanfaatkan media sosial (Tiktok) untuk berjualan secara online.
Ternyata, strategi tersebut sangat efektif dan membuahkan hasil. Pemasaran tanaman budidaya mereka mulai dipasarkan hingga luar Purworejo bahkan ke penjuru nusantara. "Kami pasarkan melalui live, sekali live bisa terjual puluhan batang Bunga Bugenvil. Itu dari satu akun saja, padahal di sini banyak sekali pemuda yang live," terang Ihsanudin.
Harga yang ditawarkan juga sangat bervariasi tergantung dari besar kecilnya batang tumbuhan tersebut mulai Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu. Bahkan, kalau memiliki biasan sebanyak 200 sampai 250 jenis biasa sampai Rp 1 juta per batang. "Bugenvil itu harganya cukup stabil. Modal yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak sehingga banyak yang tertarik," ucap dia.
Adapun, jenis Bugenvil yang ditanam di desa tersebut ada jenis lokal maupun impor. Koleksi impor biasanya berasal dari Malaysia, Singapura, Thailand, Hawai, dan India. Bunga-bunga jenis tersebut diklaim lebih menjanjikan karena masih cukup langka di Indonesia.
Baca Juga: Manfaat Telur Ayam Kampung untuk Pertumbuhan Anak
Baca Juga: Bike Of The Year 2024, Honda Stlylo 160 Stylish Dengan Performa Fantastis
Baca Juga: Mengenal Batara Asmara: Dewa Cinta yang Menjaga Kasih Sayang Pasangan dan Ajarkan Ilmu Asmaragama
Salah satu pemilik green house di Desa Tunjungan yaitu Prapto, 32. Jenis Bugenvil yang dibudidaya seperti jenis fatimah, selendang sutra ungu, ekor musang putih, bengawan solo, dan sebagainya. Dia mengaku tertarik untuk budidaya Bugenvil karena harga relatif stabil dan perawatannya cukup mudah. "Bugenvil juga banyak yang suka," imbuhnya.
Biasanya, dia memasarkan tanaman hiasannya melalui media sosial Tiktok secara live. Saking banyaknya peminat, Prapto sampai kewalahan memenuhi permintaan pasar. Stok bunga yang dimiliki hampir selalu selalu terjual habis.
"Sekali live saja bisa terjual 70 batang kecil dan sekitar 35 batang medium. Sebulan omzet yang didapatkan bisa mencapai Rp 10 juta atau lebih," tandas dia. (han)
Editor : Heru Pratomo