Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Belum Bersertifikat Eliminasi Malaria, Purworejo Bersiap Eliminasi Malaria 2026

Jihan Aron Vahera • Jumat, 13 Desember 2024 | 19:35 WIB

 

 

RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo untuk Radar Jogja  Pendampingan persiapan eliminasi malaria 2026 di Kabupaten Purworejo oleh provinsi beberapa waktu lalu.
RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo untuk Radar Jogja Pendampingan persiapan eliminasi malaria 2026 di Kabupaten Purworejo oleh provinsi beberapa waktu lalu.

 

 

PURWOREJO - Kabupaten Purworejo merupakan wilayah yang belum mendapatkan sertifikat eliminasi malaria dari Kementerian Kesehatan RI. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo bersama RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo melakukan persiapan eliminasi malaria di 2026 mendatang.

 

Pemkab Purworejo bersama RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo telah melakukan pendampingan persiapan eliminasi malaria 2026. Hal tersebut didasari oleh surat dari Surat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dinas Kesehatan (Dinkes) Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang Nomor: 400.7.9.1/350.

 

Kegiatan tersebut diikuti oleh tim dari Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang Provinsi Jawa Tengah bersama tim dari Dinas Kesehatan Purworejo. "Pendampingan persiapan eliminasi itu dilakukan karena saat ini Kabupaten Purworejo statusnya belum bersertifikat eliminasi malaria," kata Direktur RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo Tolkha Amaruddin.

 Baca Juga:  Astra Motor Yogyakarta Terima Penghargaan TJSP Kabupaten Sleman 2024

Baca Juga: Harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik Jelang Nataru

Syarat untuk mendapatkan sertifikat tersebut salah satunya yaitu selama tiga tahun terakhir tidak ada penularan setempat  (indegenous). "Kami menargetkan penilaian di 2026. Tetapi, satu tahun sebelum penilaian ada pra penilaian pada Maret 2025 nanti," jelasnya.

 

Untuk mempersiapkan pra penilaian itu, Dinkes Provinsi melalui Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang melakukan pendampingan penilaian self assessment dengan menggunakan cek list. Sejumlah indikator yang dinilai yaitu ketersediaan SDM, dokter yang dilatih tata laksana malaria, petugas laboratorium yang sudah bersertifikat pemeriksaan mikroskopis malaria, ketersediaan obat, hingga mekanisme permintaan obat ke dinkes.

 

"Selanjutnya, bagaimana RS melakukan deteksi dini malaria kepada kepada pasien yang berasal dari wilayah endemik atau setelah bepergian juga dinilai," jelasnya. Menurutnya, kecurigaan dokter ke arah malaria juga perlu agar segera dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Hal tersebut dilakukan agar pasien bisa segera ditangani dan diketahui penyebab penyakitnya.

 

Editor : Heru Pratomo
#Malaria #Purworejo