JOGJA - Suasana panen tembakau di Dlingo, Bantul dan Kalasan, Sleman, menjadi lebih dari sekadar musim panen biasa. Di balik hamparan hijau daun tembakau yang siap dipetik, ada cerita tentang kolaborasi antara petani lokal dan Taru Martani—Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) kebanggaan Yogyakarta yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga berkomitmen membangun kesejahteraan masyarakat.
Tahun ini, Taru Martani memanen tembakau bersama petani di lahan seluas 1,5 hektare di Dlingo dan 4,19 hektare di Kalasan. Kegiatan panen ini bukan hanya soal hasil produksi, tapi juga menjadi wujud nyata peran Taru Martani dalam mendukung ketahanan ekonomi daerah melalui kemitraan strategis dengan petani.
Sebagai produsen cerutu dan tembakau iris sauce pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara, Taru Martani menyadari bahwa kualitas produk berawal dari tangan para petani. Oleh karena itu, proses panen ini menjadi titik penting dari keseluruhan rantai produksi—dari kebun ke konsumen.
“Panen bersama petani di Bantul dan Sleman ini menjadi wujud nyata peran Taru Martani dalam menjaga keseimbangan antara tujuan bisnis dan misi sosial. Kami tidak hanya memastikan ketersediaan bahan baku terbaik, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Direktur Utama Taru Martani, Widayat Joko Priyanto.
Melalui proses panen ini pula, Taru Martani menguatkan peran strategisnya sebagai BUMD yang mengintegrasikan, pendampingan budidaya dan jaminan akses pasar bagi petani lokal. Penyerap tenaga kerja sektor informal, yang menjadi tulang punggung ekonomi desa. Penggerak ekonomi daerah melalui rantai pasok berbasis potensi lokal DIY. Penjaga identitas budaya, dengan tetap mempertahankan kualitas tembakau khas Yogyakarta.
Panen bukan sekadar hasil, tetapi juga proses pemberdayaan. Di ladang-ladang tembakau itulah Taru Martani menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis bisa berjalan beriringan dengan pemberdayaan petani, pelestarian budaya lokal, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Langkah ini menjadi bukti bahwa Taru Martani tidak hanya berorientasi pada profit, tapi juga pada nilai tambah sosial membangun ekonomi, menjaga tradisi, dan menyemai harapan di setiap helai tembakau yang dipanen.
Editor : Heru Pratomo