Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Sejumlah Bencana Hidrometeorologi Terjadi dalam 24 Jam, BNPB: Masyarakat Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Heru Pratomo • Rabu, 3 Desember 2025 | 02:30 WIB
Tim SAR gabungan menyisir lokasi terdampak longsor di Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, Minggu (30/11). (Bidang Komunikasi Kebencanaan)
Tim SAR gabungan menyisir lokasi terdampak longsor di Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, Minggu (30/11). (Bidang Komunikasi Kebencanaan)

 

 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimpun laporan kejadian bencana dan penanganannya dalam periode Senin (1/12) pukul 07.00 WIB hingga Selasa (2/12) pukul 07.00 WIB. Sejumlah bencana hidrometeorologi, berupa banjir dan angin kencang, tercatat melanda beberapa wilayah di Indonesia.

Banjir Melanda Kabupaten Bogor

Bencana pertama yang dilaporkan adalah banjir di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang terjadi pada Minggu (30/11) pukul 16.30 WIB. Hujan deras berkepanjangan menyebabkan aliran Sungai Cibunar meluap, khususnya di Desa Cibunar, Kecamatan Parungpanjang.

Sebanyak 74 kepala keluarga atau 222 jiwa terdampak. Hingga kini terdapat 74 unit rumah yang diketahui terendam dengan tinggi muka air awal mencapai 50 cm.


Di saat bersamaan, angin kencang juga menerjang wilayah Kecamatan Tamansari, khususnya Desa Sukajaya, dan menimbulkan kerusakan pada 52 rumah serta berdampak pada 60 KK (237 jiwa).

BPBD Kabupaten Bogor bersama aparat desa melakukan pendataan, evakuasi, serta pembersihan lokasi terdampak. “Kebutuhan mendesak saat ini adalah alat kebersihan untuk membantu warga menyingkirkan lumpur dan material sisa banjir,” demikian keterangan BPBD setempat.

Situasi terkini berangsur membaik. Sebagian warga mulai memperbaiki rumah, sementara pohon tumbang telah dievakuasi. Wilayah banjir sudah surut dan proses pembersihan terus dilakukan.

 Jabar Tetapkan Status Siaga Darurat

Mengantisipasi peningkatan risiko bencana menjelang musim hujan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan Status Siaga Darurat Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, Gelombang Ekstrem, Abrasi, dan Tanah Longsor Tahun 2025/2026 berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025, berlaku sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026.

Banjir di Kabupaten Sabu Raijua

Banjir juga terjadi di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, menyusul hujan deras yang mengguyur Desa Lobohede dan Desa Ramedue, Kecamatan Hawu Mehara, pada Minggu (30/11) sekitar pukul 07.30 WITA.

Sebanyak 20 kepala keluarga terdampak dan 20 unit rumah terendam. BPBD Sabu Raijua melakukan asesmen, koordinasi lintas instansi, dan pendampingan perbaikan bangunan secara swadaya. Kondisi di lapangan kini terpantau mulai kondusif, dan aktivitas warga perlahan kembali normal.

Cuaca Ekstrem Rusak Puluhan Rumah di Luwu Timur

Di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, angin kencang disertai hujan deras melanda dua desa di Kecamatan Angkona pada Minggu (30/11) pukul 22.00 WITA. Kejadian di Dusun Munte-munte (Desa Watangpanua) dan Dusun Bubu (Desa Maliwowo) mengakibatkan 25 KK terdampak, dengan rincian 15 rumah rusak berat dan 10 rumah rusak sedang.

BPBD Luwu Timur berkolaborasi dengan Dinas Sosial, TAGANA, Babinsa, Danramil, dan aparat desa untuk melakukan asesmen dan menyalurkan bantuan pemenuhan kebutuhan warga. Proses penanganan dan pemulihan masih berlangsung.

BNPB: Waspada Cuaca Ekstrem

BNPB mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih tinggi di berbagai daerah. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan saluran air, serta mengikuti arahan aparat di lapangan.

“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, angin kencang, dan bencana hidrometeorologi lainnya,” ujar Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Ia menegaskan pentingnya akses informasi resmi. “Pastikan hanya menerima dan menyebarkan informasi yang sudah terverifikasi. Jangan sampai masyarakat panik karena kabar yang tidak jelas sumbernya,” tegasnya.

BNPB menekankan bahwa koordinasi antarinstansi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci mengurangi risiko bencana di tengah meningkatnya dinamika cuaca.

 

Editor : Heru Pratomo
#BNPB #tagana #badan nasional penaggulangan bencana #Abdul Muhari #WITA #jawa barat #BPBD #luwu timur #bencana #bogor #Angin Kencang