RADAR PURWOREJO - Pemerintah menegaskan tidak akan melakukan impor beras dan gula konsumsi sepanjang tahun 2026.
Kebijakan ini diambil seiring menguatnya produksi dalam negeri, kecukupan stok nasional, serta komitmen menuju swasembada dan kedaulatan pangan.
Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Tatang Yuliono memastikan kebutuhan konsumsi masyarakat sepenuhnya bisa dipenuhi dari hasil produksi petani Indonesia.
“(Gula) konsumsi kita tidak ada impor. Jadi untuk (gula) konsumsi, kita tidak ada impor. Impor beras konsumsi juga tidak ada. Kalau konsumsi, kita hampir semuanya sudah swasembada,” kata Tatang dikutip dari laman jagadtani.com.
Keputusan tersebut merupakan hasil pembahasan Neraca Komoditas (NK) Tahun 2026 yang dipimpin Kemenko Pangan.
Dalam pembahasan itu, pemerintah sepakat memprioritaskan pasokan dari produksi domestik dibandingkan membuka keran impor.
“Semua yang kita putuskan adalah usulan pelaku usaha, kemudian diverifikasi kementerian dan lembaga teknis terkait. Semoga putusan ini bisa memenuhi seluruh harapan,” ujar Tatang.
Dalam NK 2026, pemerintah juga memastikan tidak ada kuota impor beras umum.
Artinya, Indonesia tidak lagi melakukan impor beras konsumsi yang sebelumnya sempat ditugaskan kepada Perum Bulog untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Tak hanya itu, impor beras bahan baku industri juga ditiadakan pada 2026.
Padahal, pada 2025 lalu pemerintah sempat memberikan kuota impor kepada 13 pelaku usaha swasta untuk kebutuhan bahan baku tepung beras dan bihun.
Dengan kebijakan baru ini, pelaku industri didorong untuk mengoptimalkan bahan baku lokal berupa beras pecah dan beras ketan pecah dengan tingkat keutuhan di bawah 15 persen.
“Harapannya bahan baku lokal mampu memenuhi spesifikasi kadar amilosa, kebersihan, viskositas, serta tingkat kekerasan,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Selain beras, pemerintah juga memastikan tidak ada impor gula konsumsi pada 2026.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 28 Desember 2025, stok awal gula konsumsi diperkirakan mencapai 1,437 juta ton.
Dengan kebutuhan konsumsi tahunan sekitar 2,836 juta ton dan estimasi produksi gula nasional mencapai 2,7-3 juta ton, ketersediaan gula dinilai berada dalam kondisi surplus dan aman.
Kondisi serupa terjadi pada komoditas jagung. Pemerintah memastikan tidak ada impor jagung pakan, benih, maupun rumah tangga pada 2026.
Produksi jagung nasional diproyeksikan mencapai 18 juta ton, sementara kebutuhan tahunan sekitar 17,055 juta ton, meski terdapat potensi susut.
Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan kebijakan tanpa impor merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada petani dan peternak dalam negeri.
Dengan stok melimpah dan produksi yang terus menguat, pemerintah optimistis kebijakan tanpa impor beras dan gula pada 2026 mampu menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan petani lokal. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva