Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Masih Ada Tanda Kehidupan, Penebangan Pohon Randu Alas di Borobudur Ditunda usai Gelar Slamaten Sembilan Jenang

Naila Nihayah • Senin, 12 Januari 2026 | 20:21 WIB
Awali Rencana Penebangan Pohon Ikonik, Pemdes Tuksongo Gelar Slametan Sembilan Jenang
Awali Rencana Penebangan Pohon Ikonik, Pemdes Tuksongo Gelar Slametan Sembilan Jenang

 

MUNGKID — Pemerintah Desa (Pemdes) Tuksongo, Borobudur, memulai proses penanganan pohon randu alas yang berada di tepi jalan pada Senin (12/1). Rencana penebangan pohon yang menjadi ikon desa itu diawali dengan prosesi slametan sebagai bentuk kearifan lokal. Namun akhirnya diputuskan untuk ditunda sambil menunggu hasil kajian lanjutan dari pemerintah kabupaten.

Sejak pagi, warga bersama pemdes menggelar slametan atau dalam tradisi Jawa dikenal sebagai ingkungan. Prosesi tersebut dilakukan sebagai doa keselamatan mengingat posisi pohon randu alas berada di jalur utama desa dan berdekatan dengan aktivitas warga.

Baca Juga: Pecinta Kuliner Menyebutnya dengan Soto Yesus, Begini Asal Usul Sebutan Kuliner Legendaris Malam di Semarang yang Wajib Dicoba

Kepala Desa Tuksongo M Abdul Karim menyebut, selamatan ini dilakukan agar seluruh proses penebangan pohon randu alas berjalan lancar. "Mau tidak mau harus ditangani karena kondisinya sudah tua, bahkan sebagian sudah mati," ujar Karim.

Dia mengatakan, keputusan awal untuk menebang pohon randu alas telah melalui kesepakatan bersama tokoh masyarakat. Namun demikian, pemdes tetap berharap penanganan pohon tersebut tidak menghilangkan identitas Desa Tuksongo sebagai desa penyangga kawasan wisata Borobudur.

"Walaupun ikon desa ini nantinya ditebang, kami berharap Tuksongo tetap jaya dan tetap dikenal oleh para wisatawan yang datang ke Borobudur," katanya.

Baca Juga: Semakin Efisien, Konsumen Bisa Beli Motor Honda Melalui Aplikasi MotorkuX

Dalam prosesi selamatan tersebut, pemdes menyiapkan tujuh ingkung ayam dan sembilan jenang merah putih. Abdul Karim menjelaskan, jumlah tersebut memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan filosofi nama desa.

"Songo itu berarti sembilan. Maka simbol-simbolnya juga kami buat serba sembilan, itu peninggalan tradisi dari zaman dahulu," jelasnya.

Sementara untuk jumlah ingkung, dia menyebut, ketentuan utamanya adalah lebih dari lima ekor. Sebagaimana amanat leluhur yang hingga kini masih dipegang masyarakat setempat.

Terkait teknis penanganan, Karim menjelaskan, arah pemotongan pohon direncanakan dari sisi selatan menuju area lapangan desa. Arah tersebut dipilih untuk meminimalkan risiko terhadap permukiman warga.

Baca Juga: Tak Puas dengan Vonis Dua Terdakwa Korupsi Alkes, Kejari Karanganyar Ajukan Banding

"Kalau nanti ditebang, arahnya dari selatan ke lapangan agar lebih aman dan tidak mengenai rumah warga," lontarnya.

Pemdes Tuksongo juga melibatkan tim pemotong profesional. Tim tersebut berasal dari DPUPR serta tenaga ahli tebang dari Wonosobo dan Temanggung. Menurutnya, keterlibatan tim ahli mutlak diperlukan mengingat ukuran pohon randu alas yang besar dan posisinya yang rawan.

"Kami tidak sembarangan. Timnya memang ahli tebang semua, karena pohonnya besar dan harus sangat hati-hati," bebernya.

Rencana awal penanganan pohon dijadwalkan dimulai sekitar pukul 08.00 setelah selamatan. Namun, rencana penebangan tersebut untuk sementara ditunda. Karim menyampaikan, tim dari Bbupati Magelang meminta waktu untuk mempelajari kondisi pohon secara lebih mendalam guna memastikan apakah randu alas tersebut masih dapat diselamatkan.

Baca Juga: UGM Diajak Ikut Bangun Purworejo, lewat Program Terkait Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat

"Sementara ditunda dulu. Tim dari pak bupati ingin meneliti apakah pohon ini masih bisa diselamatkan. Kalau masih bisa, kemungkinan tidak jadi ditebang, hanya ranting-ranting rapuh yang dibersihkan," ucapnya.

Jika hasil kajian menunjukkan pohon sudah mati atau kondisinya terlalu rapuh dan membahayakan, penebangan akan dilanjutkan pada hari berikutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengkajian Dampak dan Penataan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang Joni Budi Hermanto menyebut, dari hasil pemeriksaan perakaran, cabang, dan bekas potongan, pohon dinilai masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan meski sangat terbatas.

"Kalau dicek secara detail, tanda-tanda kehidupan masih ada, meskipun tipis. Di bagian bawah, di bonggol, masih muncul tunas baru," jelas Joni.

Baca Juga: Tips Ala Honda Istimewa, Perhatikan Hal Ini Sebelum Mencuci Sepeda Motor

Namun demikian, demi faktor keselamatan pengguna jalan dan wisatawan, DLH merekomendasikan agar cabang-cabang pohon yang rapuh tetap dilakukan perabasan. Setelah itu, kondisi pohon akan dipantau selama tiga hingga empat bulan ke depan.

Dia menambahkan, ketika setelah perabasan itu masih muncul tunas dan tumbuh dengan baik, berarti pohon masih bisa dipertahankan. "Tapi cabang-cabang yang mengarah ke jalan tetap harus diamankan," tegasnya.

Joni juga meluruskan informasi yang sempat beredar di media sosial terkait keluarnya cairan berwarna merah dari batang pohon randu alas yang disebut-sebut menyerupai darah. Dia memastikan, cairan tersebut bukanlah fenomena mistis.

Baca Juga: Sebanyak 47 Hektare Kawasan Kumuh Masih Tersisa di Jogja, Pemkot Targetkan Tuntas 2029

"Beberapa jenis pohon memang memiliki getah berwarna merah. Randu alas merah ini salah satunya. Itu getah biasa, bukan darah atau kejadian mistis," jelasnya.

Menurut Joni, karakteristik getah merah juga dimiliki sejumlah jenis pohon lain seperti sonokeling dan sengon Jawa. Oleh karena itu, warga diminta tidak terpengaruh isu yang tidak berdasar dan tetap mengedepankan keselamatan serta kajian ilmiah dalam penanganan pohon randu alas tersebut. (aya)

Editor : Heru Pratomo
#Bupati Magelang #darah #DLH #pohon randu #tanda kehidupan #PEMDES #Tuksongo #Borobudur #getah