PURWOREJO - Perajin sawangan di Desa Tanjunganom, Banyuurip mengeluhkan minimnya perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo. Padahal, tradisi kerajinan sawangan atau peluit burung tersebut telah lama menjadi mata pencaharian warga setempat.
Seperti diungkapkan Saiful alias Ipul, 50, yang telah lama menggeluti kerajinan sawangan. Ia mengaku selama ini pemerintah daerah belum begitu memberikan perhatian lebih kepada perajin. Kondisi ini dinilai membuat perajin sawangan kurang berkembang. "Saya sempat ke disprindag, tapi respons kurang positif. Pernah mau minta dibantu apa saja gitu," ucapnya kepada Selasa (17/2).
Ipul mengatakan, produksi sawangan di Desa Tanjunganom telah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, cukup disayangkan jika pemerintah daerah tidak ambil bagian dalam pelestarian tradisi tersebut.
Menurutnya, hasil produksi sawangan khas Desa Tanjunganom mulai kalah bersaing dengan produksi dari daerah lain. Oleh karena itu perlunya dukungan dari pemerintah daerah. "Saya juga miris, sekarang malah lebih maju daerah lain. Seperti Cilacap, lebih jos sana. Kenapa Purworejo tidak bisa," ujarnya.
Dia mengungkapkan, banyak faktor yang menyebabkan sentra sawangan di Desa Tanjunganom kurang berkembang. Antara lain minimnya akses permodalan. Di samping itu perajin merasa butuh adanya pendampingan guna peningkatan kualitas produksi. Bagi perajin, pemerintah daerah perlu hadir melakukan intervensi dalam hal pemasaran.
"Kami itu cari bahan baku sama peralatan sampai Jogja. Di sana lebih terjangkau," katanya.
Hal sama diungkapkan perajin lain Tarmi, yang selama ini merasa jauh dari perhatian pemkab. Ia mengatakan, produksi sawangan yang dihasilkan sebenarnya memiliki potensi pasar cukup besar. Namun keterbatasan akses promosi dan inovasi membuat sawangan buatan warga Purworejo sulit bersaing di pasaran.
Ia menambahkan, tidak sedikit warga Desa Tanjunganom menggantungkan hidup dari produksi sawangan. Bahkan sebagian perajin mampu membiayai sekolah anak hingga perguruan tinggi dengan mengandalkan jualan sawangan.
"Masih sangat peluang. Tapi kami bingung mau melangkah. Caranya promosi dan jualan sekarang bagaimana," bebernya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Tanjunganom Pawit Rahman menjelaskan, hampir mayoritas warga desanya memiliki keahlian memproduksi sawangan. Namun, per hari ini jumlah perajin mulai berkurang seiring generasi penerus yang kini beralih ke sektor usaha lain. "Desa kami ada sekitar 630 kepala keluarga. Khusus yang buat sawangan jumlahnya menurun," ungkapnya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova