Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu (8/3), di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut diperlukan agar konflik yang sama tidak terulang di masa depan.
Trump mengatakan dirinya tidak ingin situasi serupa kembali terjadi dalam beberapa tahun mendatang.
Menurutnya, Amerika Serikat harus memastikan Iran tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Pernyataan Trump muncul setelah Majelis Pakar Iran (Assembly of Experts) dilaporkan telah menyelesaikan keputusan mengenai pemimpin tertinggi baru negara tersebut.
Lembaga ulama yang berwenang memilih pemimpin tertinggi Iran itu disebut telah mencapai kesepakatan terkait pengganti Ayatollah Ali Khamenei.
Ali Khamenei sebelumnya tewas pada 28 Februari 2026 setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah kota lain di Iran.
Serangan tersebut menewaskan Khamenei bersama puluhan pejabat senior serta komandan militer Iran, dan juga menyebabkan ratusan korban sipil.
Di tengah perkembangan tersebut, Iran kemudian menetapkan Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu.
Penunjukan tersebut menuai perhatian internasional sekaligus memicu kritik dari Trump, yang sebelumnya juga menolak kemungkinan kepemimpinan Mojtaba di Iran.
Komentar Trump mencerminkan sikap keras pemerintahannya terhadap Iran, terutama terkait isu program nuklir dan konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat serta Israel di kawasan Timur Tengah.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.