Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Paparan Media Sosial dan Dampaknya pada Psikologi Anak

Bahana. • Jumat, 13 Maret 2026 | 12:57 WIB

Photo
Photo
Media sosial kini menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Akses gawai yang semakin mudah membuat anak di bawah umur akrab dengan berbagai platform digital sejak usia sangat dini.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran, sebab ruang digital tidak selalu ramah bagi anak yang secara psikologis dan emosional masih dalam tahap perkembangan.

Data nasional menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar asumsi. Badan Pusat Statistik mencatat 35,57 persen anak usia dini (0–6 tahun) di Indonesia sudah mengakses internet.

Angka tersebut menandakan bahwa paparan dunia digital, termasuk media sosial, terjadi ketika anak belum memiliki kemampuan berpikir kritis, pemahaman privasi, maupun kontrol emosi yang matang.

Pada usia anak, media sosial kerap menjadi ruang pembentukan identitas. Namun, validasi yang bersumber dari likes, komentar, dan jumlah pengikut dapat memengaruhi cara anak menilai dirinya sendiri.

Anak cenderung membandingkan diri dengan orang lain, mudah merasa kurang, dan bergantung pada pengakuan digital. Tekanan semacam ini berisiko menimbulkan masalah psikologis apabila berlangsung terus-menerus tanpa pendampingan.

Sebuah kajian ilmiah berjudul Social Media and Depressive Symptoms in Childhood and Adolescence: A Systematic Review (2017) menyimpulkan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan meningkatnya gejala depresi dan tekanan psikologis pada anak dan remaja.

Penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial, terutama tanpa pengawasan orang dewasa, dapat berdampak negatif pada kesehatan mental kelompok usia muda.

Paparan media sosial yang berlebihan pada anak juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis dalam jangka panjang.

Anak yang belum matang secara emosional cenderung lebih sensitif terhadap penilaian di ruang digital.

Komentar negatif, ejekan, atau minimnya respons atas unggahan dapat memicu rasa cemas, rendah diri, hingga tekanan emosional.

Dampak ini sering kali tidak langsung terlihat, tetapi muncul melalui perubahan perilaku seperti mudah marah, menarik diri dari lingkungan sosial, atau kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari.

Tekanan psikologis tersebut semakin kuat karena media sosial kerap menampilkan gambaran kehidupan yang ideal dan tidak realistis.

Anak yang belum memiliki kemampuan berpikir kritis cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain secara terus-menerus.

Perbandingan sosial ini dapat mengganggu pembentukan konsep diri yang sehat, membuat anak merasa tidak cukup baik, kurang diterima, atau tertinggal dibandingkan teman sebayanya.

Berbagai fakta tersebut menunjukkan bahwa media sosial bukan sepenuhnya buruk, tetapi juga bukan ruang yang aman tanpa pengawasan.

Pendampingan orang tua, literasi digital, dan kesadaran bersama menjadi kunci agar anak terlindungi dari dampak negatif media sosial di era digital.

Penulis: Ferry Aditya

Editor : Bahana.
#media sosial #medsos #anak