Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Tak Biasa, Salat Id di Bangunjiwo, Kasihan Berasa Global karena Diimami Imam asal Libya

Heru Pratomo • Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:49 WIB

Illustrasi tata cara salat Tarawih.
Illustrasi tata cara salat Tarawih.

 

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bangunjiwo Barat menggelar Salat Idulfitri 1447 H pada Jumat (20/3/2026) di halaman Masjid Al Yaqin, Ngentak, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Pelaksanaan salat Id tahun ini menghadirkan nuansa internasional dengan imam yang berasal dari Libya.

 

Bertindak sebagai imam adalah Muhammad Dirbal, mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta asal Sabha, Libya. Sementara itu, khatib dipercayakan kepada Muhammad Utama Al Faruqi.

Salat Id dimulai pukul 06.30 WIB dan dihadiri sekitar 800 hingga 1.000 jamaah dari wilayah Ngentak dan sekitarnya.

Salah satu panitia, Ary Kurniawan, menjelaskan bahwa momentum Idulfitri dan Iduladha selalu menjadi ajang berkumpulnya warga. Usai pelaksanaan salat, jamaah melanjutkan dengan kegiatan halalbihalal untuk mempererat silaturahim.

 

Menurut Ary, kehadiran imam dari luar negeri menjadi hal yang jarang terjadi, sehingga memberikan pengalaman berbeda dan menarik bagi masyarakat. “Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga, sekaligus memperkaya pengalaman keagamaan,” ujarnya.

 

Khatib Salat Id, Muhammad Utama Al Faruqi, menyampaikan bahwa pelaksanaan salat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Ia menilai momen ini akan menjadi pengalaman berkesan, baik bagi jamaah maupun imam yang sedang menempuh studi di Indonesia.

“Ini akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Selain itu, secara tidak langsung juga menjadi sarana mengenalkan Muhammadiyah kepada keluarga dan kerabat imam di negara asalnya,” jelas Faruqi.

 

Sementara itu, Muhammad Dirbal mengungkapkan bahwa ini merupakan pengalaman pertamanya melaksanakan Salat Idulfitri di Indonesia setelah tiga tahun menempuh studi. Ia menyebutkan bahwa pada hari yang sama, umat Islam di Libya juga merayakan Idulfitri, meskipun terdapat perbedaan waktu sekitar lima jam.

Dirbal juga merasakan kesamaan tradisi Idulfitri di Indonesia dan Libya, seperti bersalaman, saling berkunjung, serta berbagi hadiah. Ia mengaku merasa seperti berada di kampung halaman sendiri, bahkan merasa lebih nyaman selama berada di Indonesia.

 

Pelaksanaan Salat Idulfitri yang melibatkan mahasiswa asing ini menjadi salah satu gambaran praktik kebersamaan umat Islam lintas negara. Selain itu, momen ini juga mencerminkan semangat persatuan dalam penetapan kalender Hijriah yang bersifat global.

Editor : Heru Pratomo
#Bantul #Kasihan #PRM #Ngentak #Bangunjiwo #salat idulfitri #Muhammadiyah #libya #Mahasiswa #unisa