Legenda Susu Sapi Segar Utomo Klaten; Berawal dari Bisnis Otobus, Mampu Bertahan Empat Generasi sejak 1942

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Jumat, 17 April 2026 | 20:39 WIB

 

Kedai susu segar Utomo di Jalan HOS Cokroaminoto No 1, Kelurahan Kabupaten, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Kedai susu segar Utomo di Jalan HOS Cokroaminoto No 1, Kelurahan Kabupaten, Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

SOLO - Sebuah bangunan bergaya kolonial yang berdiri kokoh sejak 1929 menyimpan cerita tentang keteguhan sebuah keluarga di Klaten. Tepatnya di Jalan HOS Cokroaminoto No.1, Kelurahan Kabupaten.


Di lokasi tersebut, terdapat kedai Susu Utomo, salah satu pelopor kedua susu sapi segar di Klaten. Mengingat sudah menghangatkan tubuh para pelanggannya lewat produk susu sejak zaman sebelum kemerdekaan.

Baca Juga: Disentil Andre Rosiade Mirip Sawah, Pemkot Solo Bakal Bongkar Titik Pemicu Genangan di Stadion Manahan


Sejarah Susu Utomo tak bisa dilepaskan dari sosok Liem Siang Hien, kakek dari Sajekty Sulistya, 69, yang akrab disapa Lili. Jauh sebelum dikenal sebagai juragan susu, keluarga Liem adalah pemilik usaha transportasi bus bernama Bis Eva yang melayani rute Solo-Jogja pada era 1930-an.


Namun, roda nasib berputar saat pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang (1941-1942). Armada bus yang masih laik jalan dipaksa pindah tangan ke pihak kolonial dengan bayaran uang yang dipotong setengah.


Sementara sisanya dirampas paksa oleh tentara Jepang. Di tengah situasi tersebut, seorang tetangga menawarkan jalan baru yakni memelihara sapi perah.
"Tahun 1942 kakek saya mulai usaha susu, dulu namanya Susu Liem. Karena belum punya kandang sendiri, awalnya pinjam tempat di tetangga sebelum akhirnya pindah ke bangunan ini," kenang Lili saat ditemui di kedainya, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: ASN Bukan Buzzer Kekuasaan, DPRD Kritik Keras Imbauan Pemkab Kulon Progo


Menu yang ditawarkan pun kian beragam. Selain susu murni dalam kondisi panas dan dingin, pelanggan bisa menikmati berbagai varian rasa seperti vanila, stroberi hingga cokelat yang menjadi favorit. Bisa juga ditambahkan dengan madu, telur hingga jahe.


Ada pula menu unik yang jarang ditemui di kedai lainnya yakni susu kacang merah dengan gula aren. "Sekarang saingannya banyak di sepanjang jalan, tapi orang-orang yang cari suasana tenang buat ngobrol biasanya ke sini. Kami juga sediakan camilan seperti dimsum, mie dan roti panggang untuk teman minum susu," tambahnya.

Baca Juga: Disentil Andre Rosiade Mirip Sawah, Pemkot Solo Bakal Bongkar Titik Pemicu Genangan di Stadion Manahan


Meski tak lagi memelihara sapi sendiri dan kini bermitra dengan peternak lokal terpilih, Lili sangat ketat menjaga kualitas. Baginya, susu adalah komoditas yang sensitif.


"Susu itu menyerap bau. Kalau kandangnya tidak bersih atau sapinya tidak dimandikan, susunya bisa prengus. Kami pastikan ambil dari peternak yang kebersihannya terjamin," tegasnya.


Untuk harga, segelas susu matang dibanderol mulai dari Rp 7.000. Sementara susu mentah dijual Rp 24.000 per liter. Karena tanpa pengawet, susu tersebut hanya bertahan sekira 10 jam setelah diperah atau dimasak, membuat kesegarannya selalu terjaga setiap hari.


Bagi warga Klaten maupun pelancong dari Solo dan Jogja, Susu Utomo bukan sekadar tempat minum. Tapi mengajak pelanggan dari berbagai daerah menikmati setiap tegukan susu sapi murni dalam ketenangan di tengah Kota Klaten. (ren/laz)
Sumber: Radar Solo

Editor : Sevtia Eka Nova
Sumber : Radar Solo
kedai Susu Utomo SUSU LIEM susu sapi klaten kolonial