Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Dulu Habis Rp 500 Ribu untuk Solar, Kini Petani Krandegan Purworejo Nikmati Air Irigasi Gratis

Muhammad Hafied • Kamis, 21 Mei 2026 | 21:22 WIB
Dari
Dari 'Desa Merah' Jadi Desa Mandiri, Krandegan Purworejo Sukses Cetak 420 Ton Padi Lewat Irigasi Surya

 

 

Kehadiran perangkat pompa irigasi berbasis tenaga surya menjadi kekuatan tersendiri di Desa Krandegan, Kecamatan Bayan. Teknologi ramah lingkungan ini membuat petani setempat tak lagi khawatir ketika musim kemarau datang.

 

Kepala Desa Krandegan Dwinanto mengatakan, musim kemarau selalu menjadi momok menakutkan bagi kalangan petani. Mereka khawatir hasil produksi pertanian kurang optimal karena pasokan air irigasi tak stabil.

 Namun, hadirinya sistem irigasi berbasis tenaga surya tersebut, para petani mulai merasa lega. "Dulu, kami itu tercatat desa merah, sekarang jadi desa mandiri di Purworejo," ucapnya, saat peresmian pompa tenaga surya, Kamis (21/5).

 Baca Juga: Mengupas Khasiat Mengkudu: Manfaat Medis, Fakta Ilmiah, dan Mitos di Balik Si "Buah Busuk"

Dwinanto mengatakan, hadirnya pompa tenaga surya membawa keberkahan tersendiri bagi petani. Mereka tetap dapat mengolah lahan secara mandiri tanpa kesulitan pasokan air.

Selain mampu mengalirkan air dengan mudah, keberadaan teknologi di sektor pertanian tersebut terbukti mampu menekan biaya operasional karena memanfaatkan energi matahari. "Dulu, sempat pakai pompa biasa. Pemakaian solar habis Rp 500 ribu buat sehari semalam. Sekarang gratis," bebernya.

 

Dia menyebut, sejak terpasang pompa tenaga surya lima tahun lalu, Desa Krandegan mengalami surplus padi. Tercatat dari total lahan seluas 70 hektare, panen yang dihasilkan mencapai 420 ton atau rata-rata 6 ton dalam satu hektare.

Baca Juga: OJK Puji Kontribusi AFTECH: Layani 17 Juta Pengguna dan Fasilitasi Transaksi Triliunan Rupiah

 Dia optimis produktivitas pertanian akan terus meningkat meski memasuki puncak musim kemarau. "Ketika dirupiahkan, nilai plus yang didapatkan sekitar Rp 5 miliar," kata Dwinanto.

 

Di Desa Krandegan, perangkat pompa tenaga surya terpusat di Padukuhan Bojong Wetan. Di seberang jalan desa terlihat berjejer panel atau papan khusus untuk menampung sinar matahari.

Kemudian dialirkan sebagai sumber energi utama untuk menggerakkan mesin pompa air. Teknologi terbarukan ini diimplementasikan atas kolaborasi antara pemerintah desa, pihak swasta dari Singapura dan perguruan tinggi. "Totalnya 40 ribu watt. Terbaru, sudah dipasang pompa kekuatan 15 PK," sebutnya.

 Baca Juga: Riset Muslim Pro: Haji dan Umrah Kini Jadi Aspirasi Hidup Generasi Muda Indonesia

Sementara itu, Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setyabudi menaruh perhatian lebih atas terobosan yang dilakukan Pemerintah Desa Krandegan.

Dia menyatakan, pemerintah daerah akan terus mendorong melalui intervensi aggaran dan kebijakan agar pemanfaatan tenaga surya di sektor pertanian dapat lebih dioptimalkan. Dion juga mengajak desa lain melakukan terobosan yang sama karena teknologi tersebut mengusung konsep ramah lingkungan.

 

Bagi dia, pompa irigasi tenaga surya dapat menjadi solusi di tengah fluktuasi harga minyak bumi. Lebih dari itu, teknologi energi terbarukan ini juga selaras dengan program ketahanan pangan dan peningkatan produksi pertanian di tengah perubahan cuaca ekstrem. "Kami senang, desa ini dalam sekali dayung dapat banyak hal," ungkapnya. (fid)

Editor : Heru Pratomo
#krandegan #tenaga surya #singapura #Purworejo #Dion Agasi Setiabudi