PURWOREJO - Pembangunan Jalur Penyelamat Darurat (JPD) Kalijambe di dekat perbatasan antara Purworejo dan Magelang telah dimulai. Sebuah masjid dan lima bangunan milik warga terpaksa diratakan guna mendukung kelancaran proyek tersebut.
Ketua RT setempat Iskandar menyampaikan, pembongkaran masjid dan bangunan milik warga tidak datang tiba-tiba, melainkan telah melalui tahap sosialisasi.
Dalam proses tersebut masjid mendapat ganti rugi dari pemerintah senilai Rp 800 juta. Berbeda dengan bangunan milik warga karena berada di atas lahan pemerintah.
"Di luar masjid, yang lima bangunan itu tidak ada ganti rugi, 0 persen soalnya di tanah punya PU," ucapnya kepada Radar Jogja, Senin (13/7).
Dia mengungkapkan, Masjid Baitul Muttaqin yang sebelumnya berada di tanah wakaf bakal direlokasi seiring pembanguann JPD Kalijambe. Berdasar hasil kesepakatan bersama, ganti rugi yang diterima kemudian digunakan untuk membeli lahan seluas sekitar 500 meter persegi. Lokasinya tak jauh dari titik lahan sebelumnya.
"Beli dan garap lahan bisa habis Rp 700 juta, sisanya buat pembangunan masjid," ujarnya.
Baca Juga: Polisi Gulung Tiga Alap-Alap Curanmor di Wonogiri, Sita Handphone hingga Truk
Di lokasi, sejumlah warga tampak mulai mengumpulkan barang masjid yang masih terpakai sebelum proses pembongkaran. Seluruh peralatan masjid juga telah dipindah agar dapat dimanfatkan kembali di bangunan baru.
Saat ini warga masih menanti pemindahan jaringan listrik PLN guna memastikan seluruh proses pembongkaran bangunan tidak menimbulkan bahaya.
Lebih lanjut, Iskandar mengatakan, warga dan tokoh agama setempat telah merelakan pembongkaran masjid yang selama ini rutin digunakan untuk beribadah. Mereka tak memprotes upaya pembongkaran masjid tersebut karena dinilai untuk kepentingan bersama.
Baca Juga: Bupati Sukoharjo Etik Suryani Masuk Rutan KPK, Ini Modus Dugaan Korupsinya
"Warga sudah paham, karena di sini rawan kecelakaan sehingga butuh jalur darurat," katanya.
Sementara itu, Pelaksana Proyek JPD Kalijambe Masrifan Rafian Ahmad menjelaskan, lokasi masjid saat ini akan difungsikan sebagai pengganti badan jalan. Sedangkan jalur darurat akan dirancang persis di lokasi eksisting jalan yang kini digunakan sebagai jalur utama.
Dia menyebut terkait pembebasan lahan masjid di luar pagu anggaran yang disediakan untuk pembangunan JPD. "Sebelum kontrak, lahan masjid sudah beres. Nanti dipindah ke posisi atas, di pinggir jalan utama," ucapnya.
Baca Juga: Krisis Siswa! Empat SD Terpaksa Digabung, Mayoritas Masih Bertahan tapi Terancam
Dalam proses pembangunan JPD Kalijambe tersebut pemerintah telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 17 miliar.
Dari sisi konstruksi, jalan curam yang selama ini dikenal sebagai jalur tengkorak itu akan didesain lebih landai dengan dilengkapi jalur penyelamat. Adapun proyek pengerjaan ditarget rampung pada akhir tahun 2026 mendatang. (fid)
Editor : Heru Pratomo