RADAR PURWOREJO - Ada yang menarik dari Dusun Setan, yang terletak di Desa Tambakan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten.
Namanya yang unik selalu mencuri perhatian.
Terpasang di papan jalan, poskamling, bahkan dokumen kependudukan warga.
Kata Setan, tampak seram, dihubungkan dengan makhluk gaib yang menyeramkan.
Seakan kampung tersebut kampung horor.
Baca Juga: Akibat Diterjang Gelombang Tinggi Pantai Pandansimo, Tiga Rumah Rusak dan 55 Ha Sawah Terendam
Menurut Kepala Desa Tambakan Sunarno, huruf "e" dalam nama ini dibaca dengan aksara jawa bunyi pepet, sama seperti pengucapan huruf "e" pada kata "kelas" atau "ketan", bukan "e" pada kata setan yang berarti hantu itu.
"Jadi pelafalannya lebih dekat ke "Sétan", bukan "Setan" yang berkonotasi makhluk halus," katanya.
Jadi, dari mana asal nama unik ini?
Di sinilah masalahnya jadi menarik, karena jawabannya justru "tidak ada yang benar-benar tahu".
Baca Juga: Gunungkidul Jadi Titik Terparah Gelombang Tinggi DIY, Pantai Mana Saja yang Perlu Diwaspadai?
Sunarno sendiri mengaku tidak tahu-menahu sejarah penamaan dusunnya.
Namun, ada dua petunjuk menarik yang beredar di kalangan warga, meski belum bisa dipastikan kebenarannya.
Yang pertama, sebagian orang meyakini nama Setan sebenarnya singkatan dari "Secang Wetan", alias sebelah timur wilayah Secang.
Tapi ini pun masih sebatas dugaan populer, bukan fakta sejarah yang bisa dibuktikan lewat catatan resmi.
Petunjuk kedua justru datang dari kondisi fisik dusun ini di masa lalu.
Dulu akses jalan menuju dusunnya adalah jalan buntu, dikelilingi banyak pepohonan lebat.
Konon, pernah ada orang yang baru pulang menonton pertunjukan ketoprak dari Dusun Ngladon, tersasar dan kebingungan mencari jalan pulang.
Entah kebetulan atau tidak, kombinasi jalan buntu dan pepohonan rimbun ini mungkin saja yang dulu memunculkan kesan angker di benak orang luar.
Sekarang, jalan di dusun berpenduduk sekitar 200 rumah tangga ini sudah beraspal mulus, tidak ada lagi cerita orang tersesat.
Warganya juga menjalani hidup normal sebagai petani dan pedagang seperti dusun-dusun lain di Klaten.
Warga sendiri mengaku tidak pernah mempermasalahkan nama ini, apalagi berniat menggantinya.