Suara tawa khas Mbak Gelen beberapa kali terdengar saat Radar Jogja berbincang akrab dengan tokoh aslinya di rumahnya kawasan Kampung Guron, Kelurahan Sindurjan, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, akhir pekan lalu. Dengan antusias, perempuan pemilik nama asli Sulasri tersebut menceritakan proses siaran hingga berakhirnya kisah Mas Purwo, Mas Rejo, dan Mbak Gelen seiring datangnya otonomi daerah menjelang era 2000.
Perempuan kelahiran 3 Agustus 1953 itu memang pribadi yang akrab dan piawai berbicara. Tak ayal, siapapun yang dulu pernah mendengarkan siaran mereka bertiga bakal langsung teringat. Ketiganya merupakan sosok di balik layar dari penyampaian program pemerintah yang disiarkan melalui yang ada di Kabupaten Purworejo. Yakni, Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD), Radio Amatron, dan Radio PTDI.
Mbak Gelen diperankan Sulasri. Tokoh Mas Purwo sering dibawakan oleh Maruto. Sedangkan tokoh Mas Rejo kerap dimainkan oleh Danis Sumarno. Maruto dan Danis telah berpulang pada 2018 lalu.
"Orang kalau bercerita mengenai yang kami lakukan saat siaran itu membayangkan sesuatu yang bagus. Kita dibayangkan tengah jagongan santai dan ngobrol lepas, padahal tidak," tutur Sulasri yang kini menikmati masa purna tugasnya.
Di balik keriangan dan renyahnya obrolan ketiga tokoh rekaan dari nama Purworejo dan Bagelen ini, ternyata mereka seperti lazimnya penyiar. Mereka duduk di belakang mik dan membaca teks yang sudah dituliskan oleh Ngadiyo, yang bertindak sebagai sutradara.
Mereka selalu memegang skrip atau skenario. Skenario itulah yang selalu dibawa, setidaknya, dalam rentang seminggu. Sebab, skenariao itu dibawakan di tiga radio berbeda. Meski berbeda radio, narasi yang disampaikan kepada khalayak pendengar tetap sama.
Hebatnya, di setiap radio bukanlah rekaman kaset yang diputar ulang. Mereka kembali melakukan siaran langsung.
"Hari dan waktunya berbeda. Jadi, ada yang pagi dan malam hari," imbuh Sulasri.
Namun, seiring perkembangan waktu, siaran langsung itu terpaksa digantikan dengan rekaman. Ini untuk mensiasati kesibukan kedinasan yang dihadapi ketiga tokoh pemeran cerita yang digambarkan sebagai kakak beradik ini.
Soal kemunculan ketiga tokoh itu, Sulasri mengatakan, memang menjadi sebuah program untuk menyampaikan program pemerintah. Mereka adalah orang-orang yang mendarmabatikan waktu, tenaga, dan pikiran juru penerang di Kantor Departemen Purworejo.
Dari siaran di radio itu, ada hal yang amat membanggakan karena siaran tidak saja dikonsumsi masyarakat Kabupaten Purworejo. Masyarakat di dua kabupaten tetangga yakni Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Kebumen turut mendengarkan. Sebab, siaran tersebut di-relay oleh radio pemerintah setempat.
"Kami itu tidak hanya muncul suaranya di radio saja. Tapi, kerap ada kegiatan off-air dan kita menjadi pembuka acara," kata Sulastri.
Momentum bertemu dengan masyarakat inilah yang menjadikan tamba kangen bagi pendengar radio dengan idolanya. Walaupun tidak kengenal persis wajahnya, orang akan langsung paham jika mendegar suara ketiganya.
"Dulu itu kita mengunjungi masyarakat saat menggelar layar tancep atau istilahnya sekarang nobar. Mengisi waktu yang ada, kita memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Penokohannya tetap sama," katanya.
Sulastri memiliki satu harapan apibila program itu dihidupkan lagi. Dia berharap kisah yang baru memunculkan anak dan cucu dari tokoh Mas Purwo, Mas Rejo, dan Mbak Gelen.
"Katakan anak-cucu dari Mas Purwo, Mas Rejo, dan Mbak Gelen itu dimunculkan. Temanya lebih kekinian,” paparnya.
Menurutnya, tren informasi memang sudah berubah. Namun, masih dimungkinkan dilakukan modifikasi sehingga ada sebuah program yang benar-benar tepat sasaran.
”Saya yakin pendengar radio itu masih ada. Karena tidak semua orang itu bisa menjangkau media yang ada serta tidak semuanya paham media sosial. Pengalaman kami, orang di desa itu sangat paham dengan program dari pemerintahan," tutur ibu dari empat anak ini. (udi/amd) Editor : Administrator