Kerja Keras tidak pernah menghianati hasil. Hal itu dibuktikan sendiri oleh Rehan Fuad Lutfi, 25, warga Magelang yang kini sukses membuka usaha jual beli Barang Bekas (Babe) Gemilang di Jalan Cangkrep-Bagelen KM 2. Tepatnya di Desa Ganggeng, Rt 02 RW 01, Kecamatan Purworejo.
Lelaki gesit penuh optimisme itu terbilang cukup jeli dalam membidik peluang. Ia membuka usaha jual beli barang antik dan peralatan kantor bekas. Terobosan yang dia lakukan termasuk sangat realistis, ketika pangsa pasarnya adalah masyarakat yang kini terjebak situasi ekonomi yang melemah dengan daya beli yang semakin rendah akibat pandemi Covid-19.
Langkahnya tersimak semakin hebat, ketika niat usahanya didasari atas nama kemandirian untuk membantu beban orang tua membiayai adik-adiknya yang juga semua menuntut ilmu di pondok pesantren. Jiwa dagangnya juga sudah tidak diragukan lagi, sejak lulus bangku SMP dan memutuskan masuk ke Pondok Pesantren Darut Tauhid Kedung Sari asuhan KH Thoifur Mawardi pemikiran dan jiwanya semakin matang.
Dia sudah tinggal di pondok sejak 2012, dan usahanya ini baru berjalan sekitar dua bulan. “Perputaran uang kini sudah mencapai kurang lebih Rp 10 juta per bulan," ucap putra keempat dari enam bersaudara pasangan Mukharomah, 67, dan Ahmad Fazan, 1964, Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, kemarin (7/2).
Menurutnya, saat ini banyak masyarakat yang mencari barang bagus dengan harga yang murah atau terjangkau. Berangkat dari itu dia memberanikan diri untuk turun mengawali usaha dengan berjualan karpet kantor. Dengan jejaring yang dia miliki, karpet kantor bekas itu didapat dengan sistem lelang barang barang bekas pakai kantor-kantor di Jakarta.
"Awalnya saya hanya berjualan karpet kantor, saya selingi dengan usaha jualan snek atau kudapan, lama kelamaan saya mulai mencoba untuk barang-barang bekas perkantoran seperti meja, kursi, almari dan alat perlengkapan kantor (APK) lainnya," ujarnya.
Dijelaskan, barang bekas pakai lelangan kantor ternyata kualitasnya masih cukup baik, hanya beberapa yang perlu dipoles ulang tanpa banyak merubah bentuk. Peralatan kantor itu ternyata juga cukup banyak diminati untuk kebutuhan keluarga. Dalam partai besar bahkan untuk usaha kuliner dan caffe banyak yang datang ke toko atau showrom sederhanannya di Ganggeng.
"Awalnya karpet kantor kemudian perlengkapan kantor dan rumah tangga, saya juga mulai memasok barang-barang antik. Usaha saya sebetulnya tidak hanya jual beli, tetapi juga tukar tambah karena saya juga bisa sedikit-sedikit untuk merestorasi barang bekas," jelas pemuda kelahiran 3 Januari 1996 ini.
Dengan kualitas terjamin dan berani memberi garansi, pelanggan semakin banyak yang datang, varian harga yang ditawarkan mulai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah untuk satu unitnya, tergantung jenis dan kualitasnya. Ada meja, kursi, sofa, kursi tamu almari, dipan spring bad, meja kantor, kursi kantor dan lain sebagainya yang berkaitan dengan perlengkapan rumah tangga.
“Kalau kursi kuliah ini harga Rp 100 ribu. Almari atau bifet bisa mencapai Rp 3 juta. Kursi tamu kebanyakan berbahan kayu jati kualitas ekspor," ujarnya.
Menyewa sebuah rumah dia membuka usaha dan toko mulai pukul 07:00 hingga pukul 21.00. Kedua orang tua beserta adik-adiknya diajak tinggal bersama, seperti berbagi peran mereka terbentuk dalam sebuah tim solid dalam meraih sukses usaha. "Buka seperti jam kerja, tetapi karena rumah ini saya tinggali, jadi sewaktu-waktu ada yang datang saya layani," ujarnya.
Rehan kini kebanjiran order, khususnya untuk barang antik properti caffe dan rumah makan. Pesanan partai besar biasanya untuk properti usaha caffe, restoran dan rumah makan. Ia juga mulai berburu barang-barang antik bekas.
"Kalau barang antik biasanya ada kolektornya juga, sebab untuk barang antik biasanya diperhitungkan dari angka tahun, semakin tua dan suit ditemukan harganya semakin mahal, contohnya jam, lampu lampu gantung, kursi babon, kursi sedan dan banyak lagi perabot untuk dipasang di caffe atau kedai kopi," ucapnya.
Menurutnya, untuk usaha yang ditekuninya ia memilih kontrakan yang luas dan berada di dekat jalan rahauas. Beran saja, barang-barang kantor bekas itu sangat menarik warga atau pengguna jalan yang melintas. "Saya milih tempat disini pertama harga kontrak tidak terlalu tinggi, dan usaha sperti ini butuh tempat.
"Saya berpikir usaha ini mudah dan Alhamdulillah dimudahkan, kalau buka bengkel kan harus menguasai ilmunya, kalau ini yang penting mau bekerja Insyaallah, tidak perlu ilmu yang harus sekolah khusus. Restorasi juga asik, seninya kalau istilah Jawa otak-atik-nya untuk memulihkan atau membuat barang kembali bagus," ujarnya.
Memiliki dasar agama yang kuat, maka juga terwarnai dalam sikap usah Rehan. "Kalau boleh berharap kedapan usaha saya semakin berkah, bisa untuk menambah kebaikan, menolong sesama, tasaruf untuk keagamaan. Di pondok saya juga diajarkan untuk tidak hanya mencari untung tetapi berkahnya lebih penting. (tom/din) Editor : Administrator