W.R. Soepratman lahir Kamis Wage 19 Maret 1903. Lahir dari pasangan Joemeno Kartodikromo dan Siti Senen. Kata Wage diambil dari penanggalan Jawa yang kemudian melekat menjadi nama depannya.
Hingga saat ini, rumah berukuran 8 x 9 meter tersebut masih terawat. Pemerintah berupaya mengabadikan rumah bersejarah tersebut dengan menjadikannya sebagai Memorial House W.R. Soepratman.
Rumah berdiri di atas lahan seluas 400 meter persegi. Rumah dihubungkan jalan setapak di bawah pohon manggis dan durian.
Panut Maryono, penjaga sekaligus juru rawat Memorial House W.R. Soepratman, mengatakan, bertugas merawat dan menjaga bangunan cagar budaya itu. Dia mengaku sangat tahu mana bagian-bagian rumah yang masih asli dan yang sudah diganti.
Menurutnya, sekat-sekat ruang masih sama seperti dahulu kala W.R. Soepratman dilahirkan. Posisi ruang tamu, kamar, dan dapur juga tak berubah. Karya W.R. Soepratman berupa puisi dan syair lagu terpajang rapi di dinding ruang tamu. Foto-fotonya juga banyak menghiasi ruangan yang beralaskan tanah.
Di sisi kanan depan rumah terdapat cungkup serupa pendapa kecil tempat mengubur plasenta (ari-ari) W.R. Soepratman saat dilahirkan. "Di sinilah ari-ari W.R. Soepratman. Kalau dulu hanya dikasih tanda tanaman puring dan ada semacam lingkaran di bawahnya. Supaya teduh, kemudian dibuatkan rumah-rumahan," katanya (7/2).
Rumah sejarah W.R. Soepratman sering dikunjungi masyarakat. Terutama pada momentum tertentu. Setiap tanggal kelahiran W.R. Soepratman, warga Desa Somongari selalu mengadakan acara khusus untuk mengenang jasa sang pahlawan tokoh nasional itu.
"Tiap tahun pas tanggal lahir W.R. Supratman selalu kami peringati dengan berbagai acara. Termasuk upacara bendera di halaman rumah W.R. Soepratman. Tapi, entah besok karena pandemi Covid-19," ucapnya.
Dijelaskan, W.R. Soepratman sempat tinggal di rumah memorial itu selama 40 hari. Kemudian, dibawa ibunya ke Jakarta.
Ayah W.R. Soepratman yakni Joemeno Kartodikromo adalah warga Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Dia merupakan anggota Koninklijke Nederlands-Indische Leger (KNIL/angkatan bersenjata yang dibentuk sebagai penjajah Hindia Belanda) dan tinggal di tangsi bilangan Purworejo.
"Ibunya bernama Senen, pulang ke Trembelang (Memorial House) saat hamil tua mengandung anak ke-7, yang kelak bernama W.R. Soepratman," jelasnya.
Berdasarkan silsilah, ibunda W.R. Soepratman yakni Senen merupakan putri bungsu Singo Promo. Senen memiliki dua kakak bernama Sembol dan Seno.
Rumah kelahiran W.R. Soepratman dulu ditempati oleh kakak kedua yang bernama Seno. Berdasarkan saksi dan penuturan warga sekitar, saat pulang ke Trembelang ibunda W.R. Soepratman dalam kondisi hamil tua. Ibundanya pulang dengan keadaan berkecukupan, termasuk mengenakan perhiasan mewah.
"Jadi, rumah ini sebelum 1903 sudah ada. Ditempati kakek W.R. Soepratman, Singo Promo. Setelah ditempati Seno, Ibu Senen pergi ikut orang Somongari yang menjadi opas. Singkat cerita, Senen akhirnya bertemu Kartodikromo, keduanya menikah dan dikaruniai sembilan anak. Jadi, W.R. Soepratman itu anak ke-7. Jika ada yang menyebut beliau anak ke-4, itu karena tiga kakaknya meninggal masih bayi, bernama Rebo, Sarah, dan Slamet," jelasnya.
Dalam sejarah, Panut menuturkan, jejak perjuangan W.R. Soepratman berangkat dari Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Lagu Indonesia Raya karyanya dikumandangkan. Dia dikejar penjajah Belanda dan sempat ditahan di penjara.
Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah berusaha mencari tempat lahir W.R. Soepratman. Ini terjadi sekitar 1950. Upaya pemerintah tersebut sempat mendapat penolakan dari warga Desa Somongari. Sebab, keadaan sat itu belum stabil sehingga masih merasa takut.
Titik terang kelahiran W.R. Soepratman kembali muncul pada 1978. Ketika itu, pemerintah Indonesia berhasil mengumpulkan beberapa saksi hidup. Di antaranya, Atmo Rejo yang saat itu sudah berumur lebih 100 tahun dan Marto Wijoyo yang saat itu sudah berumur sekitar 96 tahun.
Atmo Rejo menyatakan dulu sering menggembala kambing di dekat rumah kelahiran W.R. Soepratman. Seangkan Marto Wijoyo menyatakan rumahnya berada di atas rumah W.R. Soepratman.
Keduanya sempat ikut sidang Pengadilan Negeri Purworejo. "Sidang juga dilakukan di sini karena keduanya sudah sepuh. Pihak pengadilan yang datang ke Trembelang untuk mengambil kesaksian keduanya," tuturnya.
Atmo dan Marto menyatakan waktu itu di rumah Seno ada kabar Senen melahirkan. Termasuk kegiatan pasca kelahiran W.R. Soepratman.
"Saksi Atmo Rejo saat itu mengaku diundang, tetapi tidak datang karena sakit mata. Termasuk pemberian nama Wage, saksi Atmo Rejo juga tahu Kamis Wage. Kemudian tanggal dan tahunnya dipastikan karena tidak jauh dari peristiwa meletusnya Gunung Kelud yang pertama," jelas Panut. (tom/amd) Editor : Administrator