Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Seperti Air, Hidup Itu Mengalir Saja

Administrator • Jumat, 26 Februari 2021 | 15:55 WIB
AKRAB: Yuli Hastuti menyalami sejumlah siswa sekolah dasar dalam sebuah acara. Kegiatan menemui masyarakat merupakan bentuk perhatian harus tetap sesuai porsinya. (RADAR PURWOREJO FILE)
AKRAB: Yuli Hastuti menyalami sejumlah siswa sekolah dasar dalam sebuah acara. Kegiatan menemui masyarakat merupakan bentuk perhatian harus tetap sesuai porsinya. (RADAR PURWOREJO FILE)
RADAR PURWOREJO - ”Selagi Ibu masih mampu tenaga dan pikirannya, jika dibutuhkan masyarakat, turuti. Jangan pernah membeda-bedakan. Pesan itu disampaikan Kelik Sumrahadi kepada istrinya, Yuli Hastuti.

Sore itu, cahaya matahari sudah meredup di ufuk barat. Sejumlah warga terlihat asyik menghabiskan waktu di seputar Alun-Alun Kutoarjo.

Radar Purworejo menunggu beberapa waktu untuk bertemu Yuli Hastuti, sosok wakil bupati terpilih Purworejo periode 2021-2024. Rumah Dinas Wakil Bupati Purworejo tampak cukup megah.

Saat turun rintik hujan sekitar pukul 17.45, Radar Purworejo masuk ke salah satu ruangan yang berada tepat di sayap kanan gedung rumah dinas. Ditemani lukisan yang berada di dalam bangunan Belanda itu percakapan mengalir. "Seperti air, hidup itu mengalir saja!," ucap Yuli Hastuti.

Filosofi hidup mengalir saja itu ternyata adalah warisan dari mendiang suaminya Kelik Sumrahadi, mantan bupati Purworejo. Prinsip itu masih cukup kuat dipegangnya sampai kini.

Yuli selalu berpesan kepada anak-anaknya seperti mengulang pesan yang diberikan Kelik Sumrahadi. "Mengalir saja! Sebagai orang tua itu jangan teriak melarang dan jangan bernapas mendorong," katanya.

Pesan dan kenangan itu selalu diingat dan tersimpan kuat. "Bapak dulu pernah matur (mengatakan), Ibu tahu sendiri sebagai yang dituakan, Bapak harus mengikuti keinginan masyarakat. Ketika saya dilantik sebagai Wabup Purworejo periode pertama, Bapak juga sempat berpesan lagi, dilakoni saja (dijalani saja).

Sebab, jika diminta mungkin belum tentu bisa. Kalau bercita-cita juga bisa nyaris sama, yang penting dijalani. Sebab, cita-cita itu hasrat atau keinginan. Jika belum terlaksana bisa membuat pusing. Berbuat baik sudah cukup. Jadi, mungkin itu sedikit arti mengalir," jelasnya.

Sementara itu, sebagai wakil bupati Purworejo periode sebelumnya, Yuli seolah mendapatkan posisi seperti yang diinginkannya. Dia lebih banyak mendapat porsi untuk turun membersamai masyarakat, posisi yang mirip seperti saat mengikuti mendiang suaminya saat memimpin Purworejo.

Sebagai perempuan Jawa pada umumnya, Yuli lebih terkesan pendiam dan tidak mau tampil mencolok di depan. Namun, dia selalu mencoba terbuka untuk apa saja, baik dalam urusan birokrasi atau masalah keluarga.

"Pilkada ini sudah selesai. Seperti pesan Bapak (Kelik) saya tidak boleh pilih-pilih orang. Jangan bedakan siapa yang dulu mendukung dan yang tidak. Semua harus dirangkul," cetusnya.

Menurutnya, pesan dan pelajaran berharga itu sudah ditanamkan Kelik Sumrahadi sewaktu menjadi Kepala Desa Grabag. "Bapak dulu pernah berucap, ibu pirso sendiri tho (Ibu menyaksikan sendiri), apa pernah Bapak membedakan-bedakan. Bahkan, yang tidak mendukung itu wajib untuk didatangi. Jangan ada rasa benci. Harus tertanam seperti itu," ucapnya.

Urusan merangkul masyarakat bahkan tetap dilakukan di tengah pandemi Covid-19. "Bagi saya wajib untuk ngaruhke (memberi perhatian). Meskipun banyak yang khawatir, siapa yang tidak takut dengan Covid-19, namun saya tetap turun. Semua itu bisa saya jalani karena saya masih pegang kata-kata Bapak dan alhamdulillah sampai detik ini saya sehat," ujarnya.

Menurutnya, kegiatan menemui masyarakat merupakan bentuk perhatian harus tetap sesuai porsinya. Tidak berlebihan. Apalagi, berpikir untuk pencitraan.

"Ketika turun, saya memang sering bilang sama Pak Bupati Agus Bastian. Saat sambang saya tidak mungkin datang dengan tangan kosong. Bukan uang dan tidak perlu menggunakan APBD. Cukup sembako, kopi atau gula dari kolega, cukup bagi saya. Kadang teman atau saudara kita ada yang sudah beruntung berkecukupan namun bingung mau menyalurkan bantuan, saya bantu untuk menyampaikannya langsung ke masyarakat," katanya.

Terlepas dari penilaian apapun, menurutnya, teh dan kopi sudah lebih dari cukup untuk bisa membersamai masyarakat. Dia juga terbiasa mengucap matur nuwun, terima kasih.

"Ya, biasanya saya hanya datang memberikan bantuan, tidak akan berlama-lama. Saya pasti akan pamit. Tidak ingin harus terlihat berpanas-panasan," ujarnya. (tom/amd) Editor : Administrator
#Kelik Sumrahadi #Yuli Hastuti