Yuli Hastuti dikenal sebagai istri tokoh masyarakat yang tersimak kuat. Dia merupakan belahan jiwa dari Kelik Sumrahadi, pernah menjabat bupati Purworejo. Mereka menikah pada 27 Desember 1982.
Kelik merupakan Kades Grabag, Kecamatan Grabag. Yuli dipinang ketika Kelik sudah genap sepuluh tahun menjabat sebagai Kades Grabag sejak 1972.
"Ya, saya menikah dengan Bapak ketika beliau sudah duduk di pemerintahan desa. Saya, bahkan, masih ingat harus menikah dekat jenazah Ibu karena tuntutan kewajiban Pak Kelik sebagai Kades," ucap Yuli mengenang.
Waktu berjalan. Perubahan terjadi di pemerintahan. Pada 1989 terbit peraturan baru yang menyebutkan posisi kepala desa harus diisi melalui proses pemilihan kepala desa (pilkades). Sejak itu, Yuli menjadi saksi sosok Kelik berjuang untuk mengikuti kontestasi pilkades.
Yuli mengungkapkan, almarhum suaminya tersebut sempat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). "Bapak tidak pernah duduk di dewan. Tetapi, sebelumnya pernah menjadi PNS,” paparnya.
Waktu itu mengikuti regulasi baru. Pada 1982, Kelik merasa sudah tidak mungkin lagi maju lagi menjadi Kades. Akhirnya, mencoba melamar sebagai PNS dan diterima.
”Namun ketika ada pilkades kembali, Bapak memutuskan maju. Menghadap bupati Purworejo saat itu, regulasi ternyata membolehkan. Pak Bupati dulu bilang, PNS adalah rezeki dan Kades bisa jadi ladang pengabdian. Jalani saja keduanya," tutur Yuli.
Jabatan PNS itu, bahkan, masih disandang ketika Kelik maju menjadi wakil bupati. Dia baru melepas status PNS ketika maju menjadi bupati mengikuti regulasi yang memang tidak memperbolehkan calon bupati berlatar belakang PNS. "Jadi sejak 1989 sampai 2006 masih aktif sebagai anggota PWRI," selorohnya.
Karier politik Yuli Hastuti benar-benar lahir dari bawah. Dia belajar secara otodidak dengan objek pengamatan mendiang suaminya sendiri.
Dia mengaku ada banyak pihak menilainya bisa mendapatkan posisinya saat ini berkat sosok Kelik. "Kalau harus mengiyakan, saya iyakan anggapan itu. Sebab, sikap politik saya memang lahir dengan cara mengamati Bapak sejak 1982. Bahkan, genap dua puluh tahun jika dihitung dari posisi Bapak sebagai Kades, kemudian menuju sebagai wakil bupati dan bupati Purworejo," tegasnya.
Namun, sedikit demi sedikit publik kembali diyakinkan dengan kematangan politik Yuli Hastuti. Ladang pembuktiannya adalah ketika dipercaya menjadi anggota DPRD Purworejo selama empat tahun. Bahkan, , dia menduduki kursi ketua DPRD Purworejo.
Hingga purna tugas sebagai legislatif, dia selama sekitar enam tahun memilih menemani sang suami. Mendampingi semua kegiatan suaminya ke manapun. Termasuk, urusan kepartaian.
"Selama enam bulan itu, kemanapun Bapak pergi, saya selalu ikut mendampingi, baik ke pusat, provinsi, atau ke mana saja saya ikut. Sebetulnya sejak dulu. Tetapi, jeda enam bulan itu lebih intensif bersama Bapak," ucapnya.
Yuli mengaku sejak kecil tidak pernah memiliki mimpi menjadi politisi. Bahkan, sampai titik saat ini.
"Pak Kelik dulu menjadi ketua Golkar bertahap. Awalnya menjadi AMPI kecamatan. Setelah menikah saya, sebetulnya juga sudah mulai tahu, bahkan dulu tahun 1982-1983 kalau ke DPD Golkar Purworejo kami naik angkot. Benar-benar perjuangan dari nol," kenangnya.
Dia tetap meyakini bahwa hidupnya cukup dengan mengalir. "Itu tadi, Bapak pernah bilang mengalir saja. Saya mengalir alami. Kendati selama menemani Beliau, membuat tahu bagaimana cara membersamai masyarakat dan partai," imbuhnya.
Yuli Hastuti tumbuh dari keluarga yang disiplin. Terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Martodijoyo dan Sutarmi. Ayahnya adalah polisi yang tinggal di asrama di wilayah Magelang. Setelah pensiun memutuskan pulang ke Desa Banyuyoso, Kecamatan Grabag. Waktu itu Yuli masih berumur sekitar enam tahun.
Sebagai anak purnawirawan polisi, kedisiplinan dan kemandirian ditempa sejak dini. Mumpuni untuk urusan berbagi tugas bersama dua kakak kandungnya.
"Kalau di rumah dulu saat saya masih kecil, berbagai tugas. Saya masak, kakak mencuci pakaian. Mengurus kebutuhan memasak juga sendiri, tidak ada pembantu. Jadi, ya memang sudah seperti itu sejak kecil dulu," ucapnya.
Terkait anak-anaknya, Yuli menegaskan, anak-anak adalah harapan. Pepatah menyebutkan harta termahal manusia adalah anak. Sebab, anak yang akan meneruskan amal kebaikan di dunia.
"Sejak kecil saya sudah tanamkan. Waktu masih ada Bapak, saya bilang Ibu harus mendampingi Bapak. Bahkan, mereka tidak protes ketika harus dititipkan ke tetangga. Alhamdulilah sejak kecil anak saya kalau dipamiti salim, ya salim. Tidak menangis. Beranjak dewasa, mereka semakin paham orang tuanya juga milik orang banyak,” paparnya.
Menurutnya, suaminya sering menasihati anak-anak. ”Jadi putrane Bapak-Ibu harus manut. Hingga sekarang, kuliah mereka cari sendiri. Cari kos sendiri. Dan, tidak pernah protes dengan kesibukan saya sampai sekarang," tandasnya. (tom/amd) Editor : Administrator