Bintang kurma adalah sebuah kisah usai Sunardi dan sang istri Farin Jumiartati pulang menunaikan ibadah haji pada 2018. Hanya berselang sekitar satu setengah bulan, pasangan ini mengaku sudah begitu kangen dengan menu masakan khas Arab. Salah satunya nasi kebuli dengan bahan baku beras basmati.
"Saya cari di Purworejo ternyata belum ada waktu itu. Setelah mendapat info, katanya di Jogja ada. Kami akhirnya ke Jogja untuk beli di sana berikut bumbunya. Karena harganya cukup mahal, kami muncul ide untuk berjualan (kebuli)," kata Sunardi.
Mereka menjalankan bisnis masakan Arab tersebut secara online. Usaha itu diberi nama Bintang Kurma. Laku keras.
"Karena kasihan terlalu sibuk keluar melayani pembeli secara online, maka saya akhirnya membuatkan istri saya kios di rumah,” jelas guru SMA Negeri 1 Purworejo ini..
Usahanya terus berkembang. Menu yang dijual tak lagi hanya kebuli. Mereka mulai menawarkan berbagai menu khas Arab ditawarkan.
”Tidak hanya menu masakan Arab saja yang kami jual. Tapi, semua yang berbau Arab, beraneka macam kurma, bahkan minyak wangi khas Arab," jelasnya.
Selain produk bernuansa Arab, Bintang Kurma juga menjual beraneka macam madu dan rempah herbal dari Arab dan Indonesia. "Kurma awalnya kami konsumsi sendiri. Saat itu primadonanya kurma raja atau kurma sukari. Seiring pandemi, kurma dan madu laku keras," ucapnya.
Sunardi mengaku memiliki alasan tersendiri memiliki nama kios Bintang Kurma. Bintang diambil dari nama anak pertamanya yakni Bintang Ashariyadi. Sedangkan kurma merupakan akronim dari kurma dan madu.
Ada produk khas yang diluncurkan Bintang Kurma. Yakni, ramuan teh bunga telang yang ditanam dan diproduksi sendiri. "Kami juga punya ramuan daun bidara. Daunnya kami keringkan menjadi teh yang penuh khasiat," jelasnya.
Menurutnya, apa yang dilakukannya mengandung sebersit niat untuk mengobati umat Muslim yang rindu dengan Tanah Suci. Mereka yang kangen suasana Arab bisa singgah untuk belanja di kiosnya. Termasuk air zamzam.
"Penjualan online banyak dari luar kota, dari Jogja, Surabaya, dan banyak lainnya. Omset per hari selama Ramadan bisa mencapai Rp 1 juta dan produk yang paling laku yakni kurma," ujarnya.
Di penghujung Ramadan, keluarga Sunardi membuat acara bertajuk Berbagi 99 Paket Takjil Kurma Urip Iku Urup. Mereka menggandeng Tim Bidara Wedding Planner and Organizer Purworejo, yang memiliki gerai di Jalan Pahlawan Lingkar Utara.
Paket takjil dibagikan kepada pengguna jalan yang melintas depan gerai tersebut. Juga, diberikan kepada pedagang dan pengunjung pasar tiban Ramadan di sekitar perempatan jalan itu.
Kegiatan ini tak hanya sebagai wujud syukur atas pesatnya perkembangan usaha mereka. Aksi sosial ini sekaligus mengimplementasikan prinsip hidup harus menyala dan bermanfaat bagi orang lain.
"Aksi berbagai kali menjadi bentuk syukur atas bekembangnya dua usaha yang dirintis serta menerapkan prinsip bahwa manusia hidup harus dapat memberikan manfaat bagi sesama. Apalagi, Ramadan merupakan bulan suci yang penuh berkah ketika untuk melakukan ibadah dan amal kebaikan," ucap Sunardi. (amd) Editor : Administrator