Optimisme yang dimiliki Nur Khomas Izzuddin pantas dicontoh. Dia tidak mudah menyerah saat dihadang pandemi virus korona (Covid-19). Ide kreatifnya justru terus muncul.
Bapak bergaya rambut gondrong ini pintar membidik peluang. "Bagi saya tidak ada istilah kerja sampingan. Semua, jika dikerjakan dengan fokus dan niat yang baik, pasti akan membuahkan hasil. Apapun itu bisa menjadi peluang," ucap bapak tiga anak tersebut kemarin (15/6).
Izzuddin mengaku usahanya berawal dari iseng. Dia melihat pipa paralon bekas teronggok di salah satu sudut ruangan rumahnya.
Tangan kreatifnya mulai usil. Pipa paralon itu dilukis. Lantas, dipahat sesuai motif kaligrafi. Sentuhan akhirnya disemprot menggunakan cat.
Tangannya terlihat sangat terampil saat memahat lukisan di paralon membentuk bermotif kaligrafi. "Media pipa paralon sebetulnya bisa dibuat berbagai macam kerajinan, miniatur, dan banyak lagi kerajinan tangan dari paralon. Saya saat ini masih fokus kaligrafi atau lukisan untuk lampu hias," ucapnya.
Dijelaskan, kerajinan pipa paralon lampu hias buatannya bisa dipasang sebagai lampu ruangan atau kamar tidur. Bisa dipasang duduk, ditempel di dinding, atau di gantung.
"Jika ada permintaan, saya belikan pipa paralon baru. Akan saya buat sesuai pesanan. Ini bisa masuk seni ukir, ya. Saya bisa buat kaligrafi logo atau lainnya di media paralon ini. Apa saja, selagi saya sanggup dan memungkinkan dikerjakan, saya terima," jelasnya.
Izzudin mengaku belajar secara otodidak. Dia mengaku gemar hal bernuansa kerajinan sejak kecil. "Kursus melukis pernah. Sejak kecil saya memang suka melukis. Kerajinan pipa paralon ini, menurut saya, ada tantangannya. Jadi, saya semakin getol untuk menekuninya," ujarnya.
Izzudin menyebutkan, harga lampu hias paralon kreasinya sesuai tingkat kerumitan pembuatan. "Kalau ukuran paralon rata-rata sama. Modal bahan baku juga tidak mahal. Cuma seninya yang dinilai. Ada yang membutuhkan waktu tiga hari baru selesai. Ada yang setengah hari selesai. Di situ saya membandrol harga. Paling murah saya sudah jual Rp 150 ribu dan termahal pernah saya jual Rp 400 ribu," ucapnya.
Menurutnya, hasil akhir produk lampu hias paralon ditentukan cara menggurat lukisan. Harus presisi supaya bagus dan indah.
"Jadi, saat itu saya melihat ada grup seniman paralon. Saya kemudian beli mini grinder sedengan dan saya coba buat. Baru sebulan, alhamdulillah pesanan sudah menumpuk. Ini juga handmade. Jadi, tidak bisa dijiplak. Walaupun ada yang pesan sama, tidak mungkin sama, karena bukan cetakan mesin," jelasnya.
Izzudin menerima banyak pesanan. Pemesan paling jauh dari Gianyar, Bali.
Dia mengandalkan pemasaran lewat media sosial. Terutama Facebook.
"Pertama jalan, saya upload di FB. Yang beli orang Bogor. Dari situ banyak yang tahu dan pesan," ucapnya. (amd) Editor : Administrator