RADAR PURWOREJO - Muhammad Rosul dulunya pekerja kantoran. Tiap hari memakai jas rapi dan berjibaku dengan hiruk pikuknya perkotaan. Nekat keluar dari rutinitas tersebut, warga Sleman ini justru sukses membudidayakan bebek petelur.
IWAN NURWANTO, Sleman
Rosul mengaku capek dengan rutinitas sebagai pekerja kantoran. Tiap hari harus memakai dasi serta berjibaku dengan kemacetan ibukota. Ketika pulang kerja pun bukan bahagia yang didapat, justru stres serta capek seluruh badan.
Letih dengan suasana itu, dia pun nekat keluar dari zona itu dan memilih kembali ke desanya di Padukuhan Banaran, Kalaurahan Sendangadi, Kapanewon Mlati. Keinginannya hanya ingin mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman dan tenteram.
Di desanya itu, Rosul kemudian melirik sektor usaha peternakan bebek petelur. Dia memulai bisnisnya dengan memelihara 1.200 ekor. Dalam menjalankan usaha peternakan bebek, menurutnya, cukup mudah asal mau tekun.
"Sangat mudah sekali perawatannya, apalagi bebek petelur. Pagi dikasih pakan, kandang dibersihkan, ambil telur. Udah itu saja terus," ujar Rosul kepada Radar Jogja, Rabu (3/4).
Dia mengaku, pada awal merintis peternakan bebek bernama Amar Farm miliknya sama sekali tidak berpikir untuk meraup untung. Misinya hanya ingin menekuni dan mempelajari bagaimana merawat bebek yang baik dan benar.
Seiring waktu berjalan, bebek-bebek miliknya pun menghasilkan telur. Pada bulan pertama memulai usaha, ribuan bebek yang dia rawat mampu memproduksi telur sampai 300 butir.
Kemudian di bulan kedua, produksi telur dari bebek-bebek yang dia pelihara semakin meningkat. Jumlahnya mencapai 600 sampai 700 butir telur dan terus meningkat hingga ribuan telur per bulan saat ini.
Di situlah dia mulai kesulitan untuk memasarkan telur bebeknya. Rosul kemudian memutar otak agar telur bebeknya bisa keluar dari kandang. Hal itu diakui bukan hal yang mudah. Sempat dia menitipkan 30 butir telur bebek ke warung, tapi yang laku hanya lima butir saja.
Selain itu, juga pernah ada orang yang berminat untuk membeli telur bebek produksi peternakannya. Namun harga belinya masih jauh dari yang diharapkan. Alias masih rugi jika dipaksakan.
Sehingga dia pun melirik sosial media untuk memasarkan telur bebeknya. Bak gayung bersambut, ternyata pemasaran telur secara online banyak peminatnya. Bahkan pembelinya juga tidak hanya dari wilayah Jogjakarta saja. "Dengan media sosial seluruh Nusantara bisa tahu," katanya.
Berkat ketekunannya, akhirnya Rosul mendapatkan perusahaan yang mau menampung ribuan telur bebeknya. Bahkan tidak jarang dia kewalahan karena permintaan telur bebek di pasaran cukup tinggi.
Menurut Rosul, peluang bisnis dari bebek petelur memang cukup cerah. Telurnya saja banyak diminati untuk bahan baku telur asin. Kemudian tambahan jamu tradisional dan gudeg, serta menjadi salah satu bahan utama untuk martabak.
Dalam beternak bebek petelur, menurut dia, selain mendapatkan keuntungan dari produksi telurnya juga bisa mendapatkan hasil dari penjualan daging bebek afkir. Atau bebek yang sudah tidak lagi maksimal dalam memproduksi telur. "Bahkan kotorannya pun masih diperlukan untuk dunia pertanian. Dijadikan pupuk," terangnya. (laz)