RADAR JOGJA - Bagi Dian Andriana, 34, berkumpul bersama keluarga adalah hal yang selalu dimimpikan setiap kali lebaran tiba. Tapi apa daya, dia harus membuang jauh mimpi itu karena terbentur tuntutan pekerjaan. Dia rela jauh dari keluarga demi menjaga palang pintu perlintasan kereta api.
M Hafied, Radar Jogja, Kebumen
Di balik hiruk pikuk mudik, ternyata banyak profesi yang rela mengorbankan waktu untuk jauh dari keluarga. Tak terkecuali dirasakan Dian Andriana, petugas palang pintu kereta api. Semua itu dilakukan agar pelaksanaan mudik lebaran masyarakat berlangsung aman dan nyaman.
Sudah 10 tahun lamanya Dian luput dari perayaan lebaran bersama keluarga. Tuntuan pekerjaan mengharuskan dirinya tetap berangkat, meski disaat yang lain libur kerja. Sekali lagi, semua hanya demi memastikan perjalanan kereta mudik tak terganggu.
Awalnya, dia sempat sedih menjalani tugas bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Tapi seiring waktu tanggungjawab pekerjaan itu seolah sudah seperti biasa. "Ya mau gimana lagi, namanya juga tugas. Memang sedih tidak bisa bareng keluarga pas lebaran. Paling habis dinas baru kumpul," ungkapnya, Sabtu (6/4).
Dian saat ini bekerja sebagai Petugas Jaga Lintasan (PJL) di barat Stasiun Kebumen. Bapak dua anak itu bersyukur, kecanggihan teknologi kini telah mewakili nilai silaturahmi ketika lebaran. Minimal bisa sedikit melepas rindu bersama keluarga maupun sanak saudara. "Bukan cuma saya, masinis dan satpam juga merasakan. Untungnya sekarang bisa video call. Paling tidak bisa komunikasi," ucap Dian.
Berkaca dari pengalaman, cuti atau libur hanya bisa diambil pasca angkutan lebaran selesai. Atau tepatnya dia pekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Setiap lebaran di PT KAI tidak ada cuti. ”Paling habis posko lebaran itu baru boleh. Termasuk pas natal dan tahun baru," kata Dian, yang juga warga Desa Klapasawit, Buluspesantren itu.
Selama bekerja di PT KAI banyak pengalaman dan kesan yang dia alami. Terutama saat musim libur hari besar nasional. Namun dia merasa beruntung karena perusahaan telah menyiapkan bonus dan insentif khusus. "Jadi ada uang tambahan untuk posko. Bahasa kami premi posko. Itu di luar gaji dan THR. Lumayan buat tambahan keluarga," jelasnya.
Dia tak memungkiri, bekerja di jasa transportasi pada momen libur panjang memang cukup menguras tenaga. Otomatis intensitas perjalanan kereta api akan jauh lebih meningkat.
Secara perhitungan jika hari normal ada sekitar 80-90 perjalanan, namun berbeda ketika musim lebaran ini yang mencapai 110 perjalanan. "Durasi setiap jam ada 4-5 perjalanan. Paling banyak malam hari bisa sampai 44 perjalanan. Cukup capek juga," ujarnya. (fid/pra)
Editor : Satria Pradika