Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Parwoko Guru Bahasa Jawa SMK Muhammadiyah 1 Salam, Pembawa Acara hingga Pemain Ketoprak

Naila Nihayah • Senin, 11 November 2024 | 23:20 WIB

 

 

Photo
Photo

 

 

MUNGKID - Darah seni mengalir di tubuh Parwoko. Guru Bahasa Jawa di SMK Muhammadiyah 1 Salam ini, meski sibuk sebagai pengajar, tetap meluangkan waktunya menjadi seniman. Entah menjadi pembawa acara, penyiar, hingga pemain ketoprak.

 

Kesibukan mengajar di sekolah, tidak membuat Warga Dusun Trono, Krinjing, Dukun ini berhenti terlibat dalam dunia seni dan budaya. Ia mengupayakan agar bisa membagi waktu sebaik mungkin. Agar mengajar di sekolah dan berkesenian, tetap berjalan beriringan dan seirama. Terlebih, ia sudah lama berkecimpung di dunia itu.

Parwoko mengaku tertarik pada dunia seni dan budaya sejak masih kecil. Sang ayah tidak pernah absen mendengarkan wayang melalui saluran radio kesayangannya. Wayang itu menjadi pengantar tidur baginya dan keluarga. Meski akhirnya tertidur, pendengaran Parwoko secara tidak langsung merekam pagelaran wayang itu dan mengkristal dalam ingatannya.

Sejak saat itu, ia perlahan tertarik dan mempelajari dunia seni dan budaya. Di sisi lain, lingkungan tempat tinggalnya juga masih menanamkan nilai-nilai Jawa. Hingga saat duduk di bangku SMA, dia mencoba untuk mengaktualisasikan kemampuannnya dengan mengikuti sejumlah perlombaan bertajuk Pekan Seni Pelajar.

Kala itu, Parwoko mengikut empat cabang lomba, yakni geguritan, puisi, tari, dan macapat. Ia berhasil membawa pulang juara satu di tiga cabang lomba dan satu lainnya mendapat juara dua. "Saya jadi senang (dengan dunia seni dan budaya)," terang guru 42 tahun itu saat ditemui, Minggu (10/11).

Selain itu, saat masih kelas 10 atau sekitar tahun 1997, Parwoko lulus di lembaga kursus Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani). Lembaga itu menaungi orang-orang yang memiliki minat terhadap master of ceremony (MC) atau pembawa acara. Menariknya, ia merupakan anggota yang termuda karena teman-temannya sudah berkeluarga.

Sejak saat itu, ia tekun menggeluti profesi itu, khususnya di dunia pernikahan. Meski masih muda, ia sudah mengikuti tur keliling daerah di Jawa Tengah menjadi seorang pembawa acara pernikahan. Dengan bekal bahasa Jawa dan selalu haus akan pengetahuan baru.

Singkat cerita, Parwoko melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dengan program studi seni tari. Dia menjadi lebih akrab dengan ketoprak, terater, karawitan, pedalangan, hingga kesenian latar lainnya. Ia kerap turun ke lapangan untuk mengikuti sejumlah pentas kesenian. Bahkan, seni dan budaya itu lambat laun mendarah daging dalam dirinya.

Kala itu, ia sama sekali tidak berpikir jika aktif di dunia seni dapat memiliki nilai jual. Namun, Parwoko percaya, suatu hari nanti, apa yang dipelajari akan berguna. Entah bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Terbukti, dengan ketekunannya itu dapat mengantarkan Parwoko hingga di titik ini. Poin plusnya, ia bisa menambah relasi.

Namun, setelah selesai menempuh pendidikannya di ISI Surakarta, ia merasa belum mencapai titik kepuasan sesuai bidang keahlian utamanya, yakni pembawa acara. Lantas, pada 2008, ia memutuskan untuk kuliah di UNY dengan program studi Pendidikan Bahasa Jawa. "Dari situlah, saya lebih mendalami lagi tentang bahasa Jawa sampai saat ini. Terlebih, bahasa Jawa masuk dalam lingkup seni manapun," lontarnya.

Sebagai seorang warga, ia ingin terus melestarikan seni dan budaya adiluhung. Terutama mengajarkannya kepada generasi muda saat ini. Karena dia tidak menampik, keberadaan gawai dan mulai masuknya budaya barat, sedikit banyak dapat memengaruhi minat dan ketertarikan siswa terhadap seni dan budaya. Kecuali bagi mereka yang memang benar-benar ingin terjun ke dunia seni dan budaya.

Mereka mengalihkan pandangan dari yang semula pemain menjadi penikmat atau penonton. Di sisi lain, ponsel juga membawa dampak positif terhadap siswa. "Ada plus minusnya. Anak-anak sekarang, kalau ada event kesenian, mereka menggunakan ponselnya untuk membuat poster atau publikasi di media sosial. Mereka membuat konten yang isinya pertunjukan," sebutnya.

Hal itu, menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi guru, dinas pendidikan, hingga pemerintah untuk memantik minat siswa terhadap kesenian. Karenanya, pemerintah menggalakkan program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema yang berbeda-beda. Harapannya, seni dan budaya yang sudah ada sejak dahulu kala itu, tidak luntur dan tergerus zaman dengan mengedepankan kearifan lokal dan keberagaman.

Saat disinggung kesibukannya itu, Purwoko mengaku, tidak kesulitan membagi waktu antara mengajar dengan berkesenian. Karena jam mengajar guru dimulai dari pagi hingga siang. Di sekolahnya, ia diminta untuk melatih ekstrakurikuler rebana kontemporer atau perpaduan antara gamelan, rebana, dan elektrik.

Sementara untuk acara ketoprak, biasanya digelar malam hari. Selain itu, dia juga aktif menjadi seorang penyiar di salah satu stasiun radio. "Kalau acara manten di lereng Merapi atau Merbabu, itu pasti siang, di atas pukul 13.00 karena biasanya saat pagi hari, mereka pergi ke ladang," ujar bapak satu anak itu. (din)

 

Editor : Heru Pratomo
#SMK Muhammadiyah 1 #seni dan budaya #Salam #Magelang #Guru Bahasa Jawa