MAGELANG - Budaya literasi di Kota Magelang nampaknya berjalan ke arah yang lebih baik. Terbukti banyak upaya dan inovasi yang dilakukan oleh Pemkot Magelang dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Khususnya bagi generasi Z dan Alpha.
Satu upayanya dengan mengukuhkan Bunda Literasi. Sosok itu dapat berperan dalam menghidupkan budaya literasi di masyarakat. Khususnya di lingkungan keluarga dan satuan pendidikan. Keberadaan bunda literasi ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung masyarakat untuk disiplin membaca dan memiliki budaya baca yang baik.
Bunda Literasi Kota Magelang Niken Ichtiaty Nur Aziz menilai, dibanding dengan daerah lain, tingkat literasi di wilayahnya sudah cukup bagus. Satu indikatornya dari tingkat kunjungan perpustakaan daerah yang dirasa mengalami kenaikan signifikan.
"Tapi, sebagai bunda literasi, kita memang harus lebih effort lagi (terhadap literasi, Red) dan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait. Terutama dengan dinas perpustakaan dan kearsipan (disperpusip)," katanya Kamis (14/11).
Niken yang merupakan Ketua Tim Penggerak PKK itu mewajibkan anggotanya untuk membaca buku apapun minimal 10 menit sebelum pertemuan berlangsung. Tidak hanya itu, dia juga mewajibkan anak-anak PAUD agar berkunjung ke perpustakaan daerah.
Terlebih, perpustakaan daerah di Kota Magelang ramah anak dan didesain sedemikian rupa supaya menarik minat mereka. "Untuk anak-anak remaja, saya bersama disperpusip membuat duta baca di setiap sekolah," sebut Bunda PAUD itu.
Dia mengatakan, rendahnya tingkat literasi di masyarakat rerata dipengaruhi oleh keberadaan ponsel. Anak-anak cenderung fokus bermain ponsel ketimbang membaca buku. Namun di sisi lain, masih ada anak yang tidak acuh terhadap literasi.
Baca Juga: Satpol PP Kebumen Amankan 3.871 Botol Miras dari Satu Pemasok, Kamuflase Toko Sembako
Selain itu, tingkat literasi juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Ketika orang tua menanamkan nilai-nilai literasi sejak dini, anak-anak dapat terbiasa dan mencintai budaya tersebut. Dia pun memiliki konsen terhadap budaya itu.
Dia dan suaminya dr Muchamad Nur Aziz, selalu mengusahakan untuk membeli buku agar sang anak bisa ikut membaca. Terlebih, Aziz merupakan sosok panutan bagi kedua anaknya dalam hal apapun, termasuk buku-buku yang dibaca.
"Dulu, saya jarang mengajak anak-anak ke mal, tapi ke perpustakaan. Misal kalau ke mal pun, kami pasti mampirnya ke toko buku dan pasti beli buku," lontarnya.
Untuk menanamkan budaya literasi di masyarakat, kata Niken, perlu adanya kolaborasi antar stakeholders.
Terlebih, selama ini Pemkot Magelang di bawah pimpinan suaminya, juga menaruh perhatian penuh terhadap pendidikan dengan memberikan bantuan atau beasiswa kepada siswa berprestasi maupun kurang mampu.
Hanya saja, kata Niken, upaya itu perlu ditingkatkan lagi. Dia mencontohkan, pemkot dapat membuat festival membaca. Harapannya, ketika sang suami kembali diamanahi menjadi wali Kota Magelang, tingkat literasi di wilayahnya semakin tinggi.
"Selama 3,5 tahun bapak (Aziz, Red) memimpin, indeks pembangunan manusia (IPM) di Kota Magelang itu naik. Dari yang semula masuk 10 besar, sekarang masuk 3 besar. Karena salah satu indikatornya dari tingkat literasi di Kota Magelang," paparnya. (aya/eno)
Editor : Heru Pratomo