MAGELANG - Dari ruang sunyi penuh kabel dan layar digital di sudut rumahnya, suara-suara itu lahir. Denting, dentuman, dan harmoni menjadi satu. Semua diracik dari hati, oleh tangan seorang aparatur sipil negara (ASN) muda bernama Heryusna Yoda Sumbara. Pria 32 tahun itu menyulap hobi menjadi profesi dan memadukannya dengan pengabdian pada negeri. Begini kisahnya.
Di luar, ia dikenal sebagai ASN di lingkungan Pemerintah Kota Magelang. Namun, di balik jam kerja formalnya, Heryusna Yoda Sumbara menjalani kehidupan kedua sebagai seorang audio engineer dengan jangkauan karya yang mendunia. Sebab kliennya datang dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari Italia, Prancis, dan Afrika Selatan.
Pria kelahiran 1993 ini merupakan bukti nyata bahwa hobi, jika dipupuk dengan ketekunan dan strategi, bisa berbuah menjadi profesi yang menjanjikan. Bahkan mendunia. Lebih dari sekadar menyukai musik, Yoda memahami struktur, lapisan, dan psikologi di balik suara. Ia hidup bersama bunyi dan diracik sepenuh hati.
Dia menyukai audio engineering sejak SMA. Sempat ingin kuliah di bidang itu, tapi akhirnya dia memutuskan untuk berkuliah di Universitas Diponegoro dengan program studi Ilmu Komunikasi. "Di sisi lain, saya tetap belajar di Jogja Audio School, biar hobi saya tetap bisa tersalurkan," tuturnya di IKM Center, Senin (30/6).
Keputusan itu, lanjut dia, membawanya ke jalan panjang yang tidak mudah. Sejak lulus kuliah, ia mantap menekuni dunia ekonomi kreatif (ekraf), terutama di bidang audio engineering. Bidang yang saat itu belum begitu populer, apalagi di kota-kota kecil. Pada 2014, ia dan teman-temannya membentuk tim kecil di Semarang.
Mereka berkutat dengan produksi suara, mulai dari aransemen musik, perekaman, hingga manipulasi audio untuk kebutuhan konten, iklan, hingga film dokumenter. Namun, tidak ada yang instan. Butuh usaha bertahun-tahun sampai akhirnya usaha itu dilirik. "Tetangga menyangka saya nganggur karena di rumah terus. Buat konten tiap hari, tapi tidak ada hasil. Tapi saya yakin dengan pilihan saya," ujarnya.
Alhasil, ia mulai menata ulang bisnisnya sendiri pada 2017. Yoda sadar, dalam industri yang mengandalkan kepercayaan dan kreativitas, personal branding adalah kunci. Ia rajin mengunggah portofolio dan konten edukatif di Instagram dan TikTok. Lewat dua platform itulah, sebagian besar klien menemukan dan mempercayakan proyek mereka kepadanya.
Klien itu, lanjut Yoda, rerata berasal dari Semarang, Jogja, Jakarta, Bandung, Riau, bahkan luar negeri. "Meeting-nya ya via Zoom, kirim draft, revisi, selesai. Yang penting komunikasi lancar. Saya bukan pencipta lagu, lebih ke aransemen dan produksi, entah lagu, iklan, maupun film dokumenter," bebernya.
Kini, ia telah memproduksi lebih dari 1.000 karya musik. Tak semua berupa lagu tunggal. Beberapa merupakan album penuh berisi 10 lagu, beberapa lainnya proyek besar dengan tim lintas negara. Alat produksinya pun tidak mewah. Hanya komputer, beberapa alat musik, headphone, dan software digital audio workstation (DAW) yang kini juga sudah terintegrasi dengan teknologi AI.
Menurutnya, keterbatasan alat tidak membuatnya berhenti berkreasi. Sebab bukan masalah alat, yang utama adalah bisa eksplorasi. "AI juga membantu, misal untuk instrumen yang tidak saya kuasai seperti saxophone. Tapi tetap, sentuhan manusia itu penting. Itu yang membuat musik jadi hidup," kata bapak anak satu itu.
Titik balik datang pada 2023, saat ia dinyatakan lolos sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemkot Magelang. Bagi sebagian orang, menjadi ASN berarti meninggalkan dunia luar. Tapi bagi Yoda, itu justru menjadi awal baru. "Dulu, saya sempat kerja di Temanggung TV sebagai sound engineer, tapi cukup lelah. Ide dan energi habis," ucapnya.
Semula, Yoda juga berat menjalani profesi ganda dan harus beradaptasi. Tapi setelah tiga bulan, dia mulai mengikuti ritme pekerjaannya. Kini, sepulang dari kantor, ia mengalokasikan 4–5 jam setiap hari untuk mengerjakan proyek-proyek musik. Bahkan jika sedang tidak mendapat inspirasi, ia memilih jalan-jalan atau nongkrong di kafe untuk mendapatkan refreshment.
Proses kreatif, katanya, tidak bisa dipaksakan. Selama ini, dia senang karena hobinya bisa menghasilkan uang. "Dukanya, ya, kadang pas buntu, tidak ada ide. Tapi semua bisa diatasi kalau kita tahu ritme kerja kita," ucapnya.
Tak hanya berorientasi bisnis, Yoda juga punya misi budaya. Dalam beberapa proyek musik, ia sengaja menyisipkan elemen lokal dari kampung halamannya, Kabupaten Temanggung. Bunyi gamelan, suling, dan instrumen etnik lainnya ia sematkan secara halus ke dalam musik yang bernuansa modern.
Dia ingin, pemerintah daerah juga mulai sadar kalau audio engineering punya potensi besar. "Pemerintah pusat sudah mulai support. Tapi di daerah, masih banyak yang belum ‘ngeh’. Ini jadi tantangan saya juga untuk mengenalkan profesi ini sebagai bagian dari ekraf," jelasnya.
Di tengah geliat digitalisasi, Yoda menilai, peluang industri audio di Indonesia sangat besar. Apalagi dengan meningkatnya kebutuhan konten untuk media sosial, YouTube, dan film independen. Bahkan pasar internasional mulai melirik kreator musik dari Indonesia karena dianggap lebih kreatif dan adaptif.
"Saya juga buat platform online. Tapi ternyata lebih efektif direct komunikasi. Jadi, branding itu penting banget. Minimal, orang tahu dulu siapa kita dan apa karya kita," tambahnya.
Kini, Yoda hidup dalam dua dunia yang saling melengkapi. Sebagai ASN yang mengabdi kepada negara dan sebagai kreator yang mewarnai dunia dengan suara. Ia tidak terburu-buru mengejar pencapaian besar. Ia tahu, setiap karya punya waktu dan jalannya sendiri. "Saya tetap jalankan dua-duanya. Kalau nanti sudah tidak di ASN pun, saya tetap bisa melanjutkan usaha saya di ekraf," sebutnya.
Dari ruang sunyi di sudut rumahnya, suara-suara baru terus dilahirkan, menyusuri jalur-jalur digital, masuk ke telinga-telinga yang tak pernah mengenalnya secara langsung. Tapi dari suara itu, nama Yoda perlahan menjadi gema yang menginspirasi. Yoda adalah potret generasi muda yang merdeka memilih jalan hidupnya.