YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mewisuda 1.061 lulusan pascasarjana pada periode terbaru. Dari ribuan wisudawan tersebut, sosok Dea Angelia Kamil menarik perhatian. Ia resmi menyandang gelar doktor dari Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas MIPA, pada usia yang sangat muda, yakni 26 tahun 11 bulan 17 hari.
Pencapaian Dea tergolong luar biasa mengingat rata-rata usia lulusan program doktor pada periode ini adalah 40 tahun 5 bulan. Keberhasilan ini diakuinya berkat persiapan matang sejak dini serta dukungan beasiswa.
Akselerasi dan Jalur PMDSU
Dea menjelaskan bahwa perjalanannya dimulai sejak duduk di bangku SMA melalui program akselerasi. Langkahnya semakin mantap saat ia berhasil mendapatkan beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).
“Berkat beasiswa tersebut, saya dapat menyelesaikan jenjang S2 dan S3 sekaligus dalam waktu kurang lebih empat tahun,” ungkap Dea pada Kamis (22/1).
Ketertarikannya pada dunia komputasi sebenarnya sudah tumbuh sejak menempuh pendidikan S1 Matematika. Namun, ia memutuskan berpindah ke Ilmu Komputer di jenjang pascasarjana untuk mendalami Machine Learning dan Artificial Intelligence (AI).
Riset Sistem Transportasi Cerdas di Korea Selatan
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi wisudawan asal Lamongan ini adalah saat mengikuti Program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI). Dea berkesempatan melakukan penelitian di University of Ulsan, Korea Selatan.
“Saya meneliti topik Intelligent Transportation System, khususnya pada estimasi kecepatan kendaraan (vehicle speed estimation). Saya mengembangkan sistem otomatis untuk meminimalkan intervensi manual,” jelasnya.
Selama di Korea Selatan, Dea tidak hanya diuji secara akademik, tetapi juga mental. Ia harus beradaptasi dengan etos kerja yang sangat disiplin—di mana hari Sabtu tetap diisi dengan seminar dan bimbingan—serta tantangan cuaca ekstrem saat musim dingin.
Dukungan Lingkungan dan Pesan Inspiratif
Kebahagiaan Dea terasa lengkap karena ia diwisuda bersama sang suami, yang juga rekan seperjuangannya di program PMDSU. Ia juga mengapresiasi dukungan dari promotornya, Prof. Agus Harjoko, serta rekan-rekan di Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi (Elins) UGM.
“Komunitas belajar di laboratorium sangat positif. Kami bertemu setiap hari dan rutin melaksanakan diskusi mingguan yang sangat membantu proses riset,” tambahnya.
Menutup kisahnya, Dea memberikan pesan bagi siapa pun yang ingin menempuh jalan akademik serupa. Menurutnya, jenjang S3 membutuhkan kesiapan mental yang kuat karena tuntutan publikasi dan proses riset yang panjang.
“Kejarlah mimpimu, tapi pahami bahwa perjalanan S3 memiliki tantangan tersendiri. Ada pepatah mengatakan ‘PhD is not for everyone’, tapi jika Anda sudah menemukan jalan di sana, setiap prosesnya akan terasa sangat berharga,” pungkas Dea.
Editor : Heru Pratomo