YOGYAKARTA – Bella Putri Maharani mencatatkan prestasi gemilang dengan menyelesaikan studi doktoral di Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam waktu singkat, yakni 3 tahun 5 bulan. Tak hanya lulus dengan predikat Cumlaude dan IPK hampir sempurna (3,98), putri asal Palembang ini resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Peternakan pada usia 26 tahun 11 bulan 1 hari.
Pencapaian ini sangat kontras dengan rata-rata usia lulusan doktor pada wisuda pascasarjana UGM April lalu yang berada di angka 42 tahun. Menjadi lulusan doktor termuda merupakan kejutan sekaligus rasa syukur mendalam bagi Bella.
"Ucapan adalah Doa"
Baca Juga: Dari Pengalaman Diskriminasi ke Panggung Dunia: Kisah Wuri Handayani Memperjuangkan Hak Disabilitas
Ketertarikan Bella pada bidang peternakan berawal dari sebuah celetukan saat SMA. Kala itu, ia bercanda ingin kuliah peternakan agar bisa memelihara unta. Siapa sangka, candaan tersebut menjadi jalan hidupnya. Setelah lulus S1 di Universitas Sriwijaya, Bella melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Fakultas Peternakan UGM melalui beasiswa PMDSU (Program Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul) dari Kemendikbud Ristek.
"Saya akhirnya percaya, kadang ucapan adalah doa. Meskipun disampaikan secara bercanda, maka dari itu berkatalah yang baik-baik," ujar penulis novel fiksi dengan nama pena Bellazmr ini sambil tersenyum, Senin (4/5).
Inovasi Pakan Alami: Ekstrak Daun Sungkai
Baca Juga: Bukan Tetiba, Bupati Agung Sebut Kerusakan Jalan di Kulon Progo karena Dibiarkan Belasan Tahun
Dalam disertasinya, Bella meneliti efikasi nanoenkapsulasi ekstrak daun sungkai (Peronema canescens Jack) sebagai aditif pakan alami ayam broiler. Penelitian yang dilakukan selama dua tahun ini bertujuan mencari alternatif pengganti antibiotik yang selama ini berisiko menyebabkan resistensi dan residu pada kesehatan manusia.
Hasil penelitiannya menunjukkan keunggulan signifikan:
-
Kesehatan Unggas: Mampu mengurangi bakteri berbahaya seperti E.coli dan Salmonella di saluran pencernaan.
-
Performa Pertumbuhan: Meningkatkan bobot ayam broiler meskipun konversi pakannya menurun.
-
Kualitas Daging: Menghasilkan karkas dan kualitas daging yang jauh lebih baik dibandingkan penggunaan bahan kimia.
Produktivitas Akademik yang Tinggi
Baca Juga: KPPU dan JFTC Perkuat Sinergi: Menuju Otoritas Persaingan Berbasis Data di Era Digital
Di balik hobi menulis novelnya, Bella tetap disiplin dalam penulisan ilmiah. Selama menempuh studi, ia berhasil memublikasikan 6 jurnal internasional dan mengikuti 9 konferensi internasional. Rahasianya terletak pada manajemen waktu yang sangat ketat dan timeline harian yang disiplin.
"Pintar-pintar kita membuat timeline dalam satu hari itu harus melakukan apa," pesannya.
Pesan untuk Generasi Muda
Baca Juga: Baru Berlaku, Desa Kini Kecipratan 10 Persen dari Opsen Pajak Kendaraan: Ini Detailnya!
Meski sempat merasa bimbang saat pandemi COVID-19 hingga ingin berhenti kuliah di awal masa S1, Bella bangkit berkat dukungan dosen dan rekan-rekannya. Ia berpesan agar generasi muda tidak takut bermimpi tinggi.
"Jika mimpi belum tercapai, jangan buru-buru mengubah mimpinya, tapi ubahlah cara meraihnya," pungkas Bella. Kini, ia berharap ilmu yang didapatnya melalui beasiswa pemerintah dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bidang peternakan di Indonesia.
Editor : Heru Pratomo