Keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tertinggi. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Dr. M. Amirul Ramli, S.Pd., M.Pd. Ia sukses menyandang gelar doktor dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) setelah melalui perjuangan panjang sebagai marbot masjid dan penjual keliling.
Amirul resmi meraih gelar tertinggi akademik tersebut setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Model Pemaknaan Hidup pada Pelaku Self-Harm”. Ujian Disertasi Tertutup ini digelar oleh Program Studi Doktor Psikologi Pendidikan Islam di Gedung Pascasarjana UMY pada Senin (25/5/2026).
Di balik toga dan gelar akademik tertinggi yang kini diraihnya, tersimpan kisah perjuangan yang sarat dengan ketekunan, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar di tengah keterbatasan.
Perjalanan Amirul di Yogyakarta dimulai pada tahun 2015 saat diterima sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMY. Berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, ia harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan.
Untuk menghemat pengeluaran, Amirul memilih mengabdi sebagai marbot di Masjid Khusnul Khotimah, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Saat itu, uang kiriman dari orang tuanya hanya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per bulan.
Kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia berjualan secara keliling. Tidak jarang Amirul berjalan kaki dari kawasan kampus UMY menuju Malioboro untuk menjajakan dagangannya dalam berbagai kegiatan dan keramaian.
“Semua proses itu justru membuat saya menjadi lebih kuat dan sabar. Dari sana saya menemukan makna yang mendalam bahwa ilmu pengetahuan benar-benar dapat mengangkat derajat kehidupan seseorang,” kenang Amirul saat diwawancarai Humas UMY, Jumat (29/05/2026).
Menyadari kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, Amirul aktif mencari berbagai peluang beasiswa. Sebagai kader Muhammadiyah, ia berhasil memperoleh Beasiswa Kader Muhammadiyah yang proses seleksinya memerlukan rekomendasi berjenjang dari tingkat ranting hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Menariknya, surat rekomendasi yang digunakan Amirul saat itu turut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.
Baca Juga: JNE dan TIKI Bersinergi Salurkan 30 Sapi Kurban Pakai 3.000 Besek UMKM Jogja
Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, Amirul berhasil menyelesaikan studi sarjana di UMY dalam waktu 3,5 tahun. Semangat belajar yang tinggi mendorongnya untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Setelah lulus S1, ia kembali mengikuti seleksi beasiswa dan berhasil memperoleh Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia untuk melanjutkan studi magister di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Perjalanan akademiknya berlanjut ketika pada tahun 2023 ia kembali ke UMY untuk menempuh pendidikan doktoral di Program Studi Psikologi Pendidikan Islam. Seperti pada jenjang sebelumnya, pendidikan doktoralnya juga ditempuh melalui jalur Beasiswa Unggulan.
Pengalaman hidup yang penuh tantangan turut memengaruhi perspektif Amirul dalam melihat berbagai persoalan sosial dan psikologis. Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang ketertarikannya meneliti isu kesehatan mental, khususnya perilaku self-harm pada generasi muda.
Melalui disertasinya, Amirul mengkaji bagaimana individu yang pernah melakukan self-harm membangun kembali makna hidup dan menemukan jalan pemulihan dari berbagai tekanan psikologis yang mereka alami.
Baginya, gelar doktor bukanlah simbol prestise semata, melainkan amanah untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Baca Juga: Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib, Disdikpora Kulon Progo Pusing Kekurangan Guru
Ia pun menitipkan pesan kepada generasi muda yang tengah berjuang menghadapi berbagai keterbatasan agar tidak mudah menyerah pada keadaan.
“Percayalah, apa yang sedang kamu usahakan akan membuahkan hasil. Mungkin Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Jangan hanya berpikir untuk menjadi hebat bagi diri sendiri, tetapi jadilah pribadi yang mampu memberikan dampak luas bagi banyak orang,” pungkasnya.
Editor : Heru Pratomo