YOGYAKARTA — Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, Prof. Dr. Mohammad Affan Fajar Falah, S.TP., M.Agr., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM di bidang Sistem Kualitas dalam Agroindustri pada Selasa (2/6), di Balai Senat UGM. Dalam upacara pengukuhan tersebut, ia menyampaikan pidato ilmiah berjudul “Pengembangan Kualitas Produk Segar dan Bahan Sisa dalam Mendukung Sistem Agroindustri yang Berkelanjutan”.
Dalam pidatonya, Prof. Affan menyoroti tantangan sistem pangan global yang kian dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, serta perkembangan teknologi. Kondisi tersebut menuntut adanya transformasi sistem pertanian dan agroindustri agar mampu memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan.
“Sistem agroindustri yang berkelanjutan menjadi bagian penting untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjawab tantangan pembangunan di masa depan,” ujarnya.
Prof. Affan menjelaskan bahwa pertanian konvensional semakin menghadapi keterbatasan akibat perubahan iklim dan menciutnya ketersediaan lahan. Sebagai alternatif, ia menawarkan pendekatan pertanian dengan lingkungan terkendali atau controlled environment agriculture (CEA) melalui pemanfaatan greenhouse (rumah tanaman) dan plant factory (pabrik tanaman).
Teknologi ini diklaim mampu meminimalkan risiko cuaca ekstrem, sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air, energi, dan lahan. Bahkan, produktivitas hasil panen dapat melonjak dibandingkan budidaya di lahan terbuka.
Integrasi teknologi ini kini dikembangkan lebih jauh lewat kecerdasan buatan (AI), sensor, dan sistem digital, salah satunya melalui konsep Speaking Plant Approach.
-
Pantauan Real-Time: Kondisi fisiologis tanaman dipantau secara langsung melalui sensor digital.
-
Otomatisasi Lingkungan: Informasi dari tanaman digunakan untuk mengatur ekosistem tumbuh secara otomatis.
-
Efisiensi Tinggi: Tanaman seolah dapat "menyampaikan" kebutuhannya sendiri sehingga pengelolaan budidaya menjadi jauh lebih presisi dan efisien.
Selain berfokus pada produk segar, Prof. Affan juga menaruh perhatian besar pada pemanfaatan bahan sisa agroindustri yang selama ini kerap dianggap limbah. Melalui pengelolaan yang tepat, residu pertanian dapat dikonversi menjadi pupuk organik, pakan ternak, sumber energi alternatif, hingga kemasan ramah lingkungan.
Langkah ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Penelitian menunjukkan bahwa residu dari komoditas kopi, cokelat, sagu, hingga tandan kosong kelapa sawit berpotensi besar dikembangkan menjadi bahan kemasan hijau.
“Inovasi tersebut membantu mengurangi ketergantungan pada plastik sintetis sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Apa yang selama ini dipandang sebagai sisa produksi sebenarnya menyimpan peluang ekonomi yang besar,” tuturnya.
Menutup pidatonya, Prof. Affan menegaskan bahwa masa depan agroindustri Indonesia sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan inovasi teknologi dengan prinsip keberlanjutan. Sinergi antara pertanian modern, teknologi cerdas, dan pengolahan limbah diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi krisis pangan global
Editor : Heru Pratomo