Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kuliah dari Umur 16 Tahun dan Sabet Predikat Wisudawan Termuda, ulviana Bagikan Tips Garap Target Tanpa Burnout

Heru Pratomo • Kamis, 4 Juni 2026 | 05:50 WIB
Fulviana Ramadlonia Agung Putri
Fulviana Ramadlonia Agung Putri

 

 

YOGYAKARTA — Di usia ketika banyak remaja masih mencari arah masa depan, Fulviana Ramadlonia Agung Putri justru sudah berhasil menyandang gelar sarjana kedokteran dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Hebatnya, ia menyelesaikan studi ini pada usia yang sangat muda, yaitu 20 tahun 4 bulan 27 hari.

Capaian Fulviana terbilang kontras dengan data universitas. Pasalnya, usia rata-rata dari 1.644 lulusan Program Sarjana UGM yang diwisuda pada 21 Mei lalu adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini menceritakan bahwa perjalanan akademiknya memang berjalan lebih cepat sejak awal. Fulviana sudah menempuh pendidikan dasar pada usia yang terbilang sangat belia, yaitu 5 tahun 8 bulan.

Baca Juga: Kukuhkan Guru Besar Baru, FTP UGM Suarakan Potensi Limbah Sawit dan Kopi untuk Kemasan Ramah Lingkungan

Setelah itu, ia mengambil program akselerasi di jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan berhasil lulus hanya dalam waktu 2 tahun. Kombinasi masuk SD lebih awal dan program akselerasi inilah yang membuatnya mampu menembus bangku perkuliahan UGM pada usia 16 tahun 8 bulan.

Menjadi wisudawan termuda bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Sebenarnya, di awal kuliah saya sempat merasa tertekan karena harus terus belajar dan menjaga konsistensi. Tapi, dengan capaian ini, saya tentu merasa sangat senang, bangga, dan bersyukur. Jujur, saya tidak menyangka akan menjadi lulusan termuda,” ungkap Fulviana, Rabu (3/6).

Di balik kesuksesannya, Fulviana mengakui tantangan terbesar yang dihadapinya adalah proses adaptasi. Di satu sisi, jiwanya yang masih muda memiliki keinginan kuat untuk bermain dan menikmati masa remaja seperti teman-teman sebayanya. Di sisi lain, dunia perkuliahan kedokteran menuntut jadwal yang sangat padat dengan ritme belajar yang ketat.

Baca Juga: Buruh di Sragen Dibegal Lima Pemuda secara Sadis, Kepala Diinjak dan Dagu Disayat Karambit

Tekanan akademik yang tinggi sempat membuatnya stres di masa awal kuliah. Namun, seiring waktu berjalan, ia mulai belajar menyesuaikan diri dan mengubah tekanan tersebut menjadi bahan bakar motivasi untuk terus berkembang.

Kunci kelancaran studinya terletak pada kemampuan memahami kapasitas diri sendiri. Ia berhasil menemukan metode belajar yang adaptif—tahu kapan harus fokus dan kapan harus beristirahat demi menghindari kelelahan mental (burnout).

“Bagiku, tidak harus selalu belajar terlalu lama, tapi bagaimana bisa disiplin dan menjaga ritme belajar dengan baik,” jelasnya.

Meski terpaut usia dengan rekan seangkatannya, Fulviana tidak merasa minder. Ia justru memanfaatkan momen tersebut untuk menyerap pengalaman hidup dari teman-temannya yang lebih dewasa, terutama dalam cara mengelola stres selama kuliah kedokteran.

Bagi Fulviana, capaian ini bukan sekadar faktor usia, melainkan buah dari proses panjang yang dikelilingi oleh sistem pendukung (support system) yang hangat, mulai dari orang tua hingga teman-teman kuliah. Lingkungan yang positif diakui sangat membantu menjaga keseimbangan antara performa akademik, kesehatan, dan kehidupan pribadinya.

Baca Juga: Beri Dukungan Bagi Nadiem, Driver Gojek Gelar Konvoi Aksi Solidaritas Lintasi Jalur Protokol Yogyakarta 

Pasca-kelulusan sarjana ini, Fulviana bersiap untuk melangkah ke tahap profesi (koas). Ia berharap dapat bertransformasi menjadi dokter yang tidak hanya kompeten secara keilmuan, tetapi juga memiliki empati tinggi terhadap pasien.

Ia juga menyelipkan pesan motivasi bagi generasi muda lainnya agar tidak minder dengan batasan umur.

“Buat teman-teman seusiaku, jangan takut mencoba dan jangan membatasi diri karena usia atau rasa kurang percaya diri. Ke depannya, saya berharap bisa menjadi dokter yang kompeten ilmunya serta bisa memberikan empati dan pelayanan terbaik bagi pasien,” ujarnya

Editor : Heru Pratomo
#burnout #wisudawan termuda #Fulviana Ramadlonia Agung Putri #program akselerasi #FK-KMK UGM