Maureen Arsa Sanda Cantika, wisudawati UGM asal Yogyakarta yang diwisuda pada Kamis (21/5) di Grha Sabha Pramana lalu dinobatkan sebagai lulusan dengan masa studi tersingkat untuk Program Sarjana Terapan, yaitu 3 tahun 5 bulan. Padahal rerata masa studi lulusan 4 tahun 4 bulan untuk lulusan Program Sarjana Terapan Periode ini.
Menjadi lulusan tercepat bukanlah target utama bagi Maureen. Namun, konsistensi dalam menjalani setiap proses perkuliahan mengantarkan mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Geografis (SIG) Sekolah Vokasi UGM ini meraih predikat sebagai wisudawan tercepat pada periode wisuda kali ini.
“Saya merasa sangat senang, bersyukur, sekaligus tidak menyangka dapat menyandang predikat sebagai lulusan tercepat pada periode ini,” ungkapnya, Senin (15/6).
Sejak awal perkuliahan, ia mengaku terbesit keinginan untuk menyelesaikan studi lebih cepat, tetapi fokus utamanya adalah menjalani setiap proses dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu. Dikatakan Maureen bahwa ia membiasakan diri untuk disiplin dalam mengelola waktu, mulai dari menyelesaikan tugas, laporan praktikum, project akademik, hingga kegiatan di luar perkuliahan. “Saya percaya bahwa konsistensi dan kinerja yang baik dalam menyelesaikan hal-hal kecil akan membentuk kebiasaan yang berpengaruh terhadap pencapaian yang lebih besar,” ujarnya.
Ketertarikan Maureen pada bidang Sistem Informasi Geografis berawal dari pandangannya bahwa geografi tidak hanya mempelajari fenomena alam dan keruangan. Menurutnya, ilmu ini juga memiliki peran penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan dan lingkungan, serta membantunya mampu mengolah, menganalisis, memvisualisasikan data. Perkembangan teknologi yang semakin pesat mendorongnya mendalami bidang yang menggabungkan ilmu geografi, teknologi informasi, analisis data, serta pemanfaatan data spasial.
Lulusan SMP Negeri 16 Yogyakarta dan SMA Negeri 1 Kasihan ini melihat teknologi geospasial memiliki prospek yang luas di berbagai sektor. Hal itu dilihat mulai dari lingkungan, kebencanaan, perkebunan, perencanaan wilayah, hingga pengelolaan sumber daya alam. Menurutnya, kemampuan ini dapat mengintegrasikan aspek keruangan dengan teknologi relevan di era transformasi digital.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Palu, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
“Menurut saya, kemampuan mengintegrasikan aspek keruangan dengan perkembangan teknologi seperti penginderaan jauh, komputasi awan, dan analisis data menjadi kompetensi baik,” sebutnya.
Ketertarikan tersebut kemudian diwujudkan melalui penelitian tugas akhir yang berjudul “Sistem Monitoring Spasial-Temporal Berbasis Google Earth Engine untuk Analisis Tingkat Keparahan Kebakaran Hutan Menggunakan Indeks dNBR dan Pemantauan Laju Pemulihan Vegetasi Pasca-Bencana di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.” Penelitian ini berfokus pada analisis dampak kebakaran hutan terhadap ekosistem serta pemantauan proses pemulihan vegetasi pascakebakaran. Ia memanfaatkan data satelit yang diolah menggunakan Google Earth Engine. Maureen menilai pemanfaatan alat ini mampu mengolah data skala besar secara efisien.
Selama menempuh pendidikan di UGM, Maureen tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan kompetisi. Pada tahun pertama perkuliahan, ia fokus beradaptasi dengan lingkungan kampus dan aktif mengikuti kepanitiaan universitas untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama serta memperluas relasi. Memasuki tahun kedua, ia mulai aktif mengikuti kompetisi akademik. Maureen menyatakan salah satu pencapaian yang berkesan adalah finalis kompetisi GIS tingkat nasional.
Baca Juga: Hilang saat Berburu Biawak, Pelajar asal Solo Ditemukan Linglung di Jaten Karanganyar
“Pengalaman tersebut menjadi titik awal keluar dari zona nyaman dan mencoba berbagai peluang yang tersedia selama menjadi mahasiswa,” ucapnya.
Pada tahun 2024, Maureen bergabung dalam himpunan mahasiswa departemen dan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Bersama tim lintas fakultas, ia berhasil meraih medali perunggu pada bidang PKM-Kewirausahaan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-37. Prestasi tersebut berlanjut dalam PIMNAS ke-38, Maureen kembali berkompetisi pada bidang kewirausahaan.
Ia menyebutkan timnya menjadi satu-satunya wakil UGM yang lolos pada kategori tersebut dan berhasil membawa pulang medali emas serta perunggu. Pada ajang yang sama, ia juga mendapat kesempatan mewakili UGM sebagai Dimas-Diajeng dalam acara pembukaan PIMNAS. “Pengalaman tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena diberi kesempatan membawa nama universitas pada ajang nasional,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia bersyukur karena pengalaman tersebut membawanya pada kesempatan menjadi pembicara di departemen. Hal tersebut juga mengajarkannya penting dalam membangun relasi dan berkolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Menurutnya, banyak peluang, ide, dan pengalaman berharga yang lahir dari interaksi dengan teman-teman lintas fakultas.
Tidak lupa Maureen menekankan pentingnya memiliki arah yang jelas sejak awal perkuliahan. Ia menyarankan mahasiswa menyusun road map per semester, baik dalam aspek akademik maupun pengembangan diri. Selain menjaga performa akademik, ia juga menyebutkan mahasiswa juga perlu aktif membangun relasi. Disebutkan Maureen bahwa banyak pengalaman, kesempatan, dan kolaborasi berharga justru lahir dari jaringan pertemanan yang luas.
Ia menyarankan untuk memikirkan topik penelitian lebih awal sebagaimana bidang yang diminati. Menurutnya, berdiskusi menjadi salah satu cara tercepat untuk berkembang karena memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika penyusunan, ia menekankan disiplin sebagaimana ia terbiasa membuat target harian atau to do list.
“Kemajuan yang konsisten, meskipun kecil, jauh lebih bernilai dibandingkan menunda pekerjaan hingga menumpuk di kemudian hari,” katanya.
Sebagai penutup, Maureen mengingatkan bahwa setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Menurutnya, menjadi lulusan tercepat bukan sekadar soal mencapai garis akhir lebih dahulu, melainkan tentang memanfaatkan setiap kesempatan yang hadir selama proses perjalanan. Ia menyebutkan gelar, penghargaan, maupun pencapaian akademik pada akhirnya hanya penanda dari sebuah fase kehidupan.
Ia menuturkan hal yang jauh lebih penting adalah karakter, integritas, dan kemampuan untuk terus belajar setelah semua pencapaian. Maureen berharap semakin banyak mahasiswa yang berani bermimpi besar, mencoba hal-hal baru, serta tidak takut keluar dari zona nyaman. “I believe that a different future often starts with one decision made today. Setiap satu langkah kecil dalam momen apapun itu, selalu bisa mengubah hidup secara besar,” tuturnya.
Editor : Heru Pratomo