Bagi sebagian orang, garis hidup terkadang melompat ke arah yang tak terduga. Namun bagi Iksan Mahar, transisinya dari seorang jurnalis olahraga papan atas menjadi Manajer Tim PSIM Jogja bukanlah sebuah aksi "banting setir" tanpa arah. Ini adalah panggilan pengabdian baru—sebuah jalan pulang menuju lapangan hijau dari sudut pandang yang berbeda.
Lama melanglang buana di bawah bendera media nasional kenamaan, nama Iksan tentu tak asing di dunia jurnalistik olahraga tanah air. Ia telah kenyang mengecap asam garam meliput berbagai ajang akbar dunia; dari atmosfer megah Piala Dunia hingga sengitnya persaingan Piala Asia telah ia abadikan melalui goresan tintanya.
Selama bertahun-tahun, Iksan adalah pengamat yang jeli. Ia berdiri di luar garis lapangan, mencatat taktik, dan menerjemahkan emosi tribun bagi pembaca. Namun, ada kalanya seorang pencatat sejarah terpanggil untuk merajut sejarah itu sendiri dari dalam.
"Ketertarikan dengan sepak bola sudah ada sejak dulu. Seperti mayoritas anak Indonesia, saya punya mimpi menjadi pemain. Namun saat dewasa, langkah karier membawa saya ke jalan yang berbeda," ujar Iksan, Senin (20/7/2026).
Menjemput Tantangan di Dalam Lapangan Perjalanan panjang keliling dunia mengawal si kulit bundar rupanya menumbuhkan ruang baru di hati Iksan. Ia merasa sudah saatnya mencari tantangan untuk terjun langsung ke dalam ekosistem tim profesional.
"Setelah cukup lama menjadi jurnalis olahraga, saya merasa butuh dunia baru untuk mengabdi. Selama ini saya hanya orang luar yang mengamati. Ketika tawaran itu datang, saya melihatnya sebagai kesempatan untuk mengaplikasikan keahlian dari sisi dalam manajemen," jelasnya.
Baca Juga: Latihan Perdana PSIM Jogja di Stadion Mandala Krida Sekaligus Kenalkan Pemain dan Staf Pelatih Anyar
Keputusannya hengkang dari salah satu media cetak terbesar di Indonesia sempat memicu spekulasi di kalangan rekan sejawat. Namun, Iksan menepis tegas isu bahwa kepindahannya disebabkan oleh ketidakpastian di dapur redaksi.
"Semua di sana aman dan lancar. Keputusan ini murni karena ada kesempatan bagus dari manajemen PSIM, dan saya rasa ini adalah momen yang tepat untuk mencoba tantangan baru," ucapnya dengan tawa renyah.
Berbekal Pengalaman Internasional Menakhodai Laskar Mataram—klub legendaris dengan ekspektasi suporter yang masif—tentu bukan perkara mudah. Beruntung, Iksan tidak datang dengan tangan kosong.
Berbekal pengalaman menakhodai tim Liga Kompas U-14 di ajang bergengsi Gothia Cup di Gothenburg, Swedia, ia telah mengantongi modal berharga. Di turnamen yang kerap dijuluki "Piala Dunia Anak" tersebut, ia terbiasa menangani aspek krusial, mulai dari seleksi pemain hingga detail teknis pertandingan.
"Jadi, saya datang ke dunia ini tidak dengan tangan kosong. Sudah ada core pengalaman yang membuat saya yakin bisa memberikan kontribusi positif," tegasnya.
Bergabung dengan PSIM Jogja menjadi pengalaman profesional pertamanya di manajemen klub. Sebagai jembatan penghubung antara manajemen, pelatih, pemain, hingga ofisial, Iksan membawa perspektif baru. Pengalamannya bertahun-tahun membaca dinamika industri sepak bola dari luar kini menjadi senjata utamanya untuk membangun relasi yang lebih harmonis, tak terkecuali dengan elemen suporter.
"Semoga saya bisa membantu PSIM meraih prestasi dan membangun relasi yang lebih baik, baik di dalam maupun di luar lapangan,"
Editor : Heru Pratomo