Hoegeng Iman Santoso: Mengenang Sosok Polisi Paling Jujur dan Bernurani di Indonesia

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 15:43 WIB
Hoegeng Iman Santoso
Hoegeng Iman Santoso

Di tengah dinamika penegakan hukum di Indonesia, nama Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso tetap berkilat sebagai simbol kejujuran, integritas, dan kesederhanaan yang tak tergoyahkan. Lahir di Pekalongan pada 14 Oktober 1921, pria yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 periode 1968–1971 ini menancapkan standar moral yang sangat tinggi bagi korps Bhayangkara.

Berbeda dengan pandangan umum tentang pejabat tinggi yang identik dengan kemewahan, Hoegeng justru memilih hidup bersahaja. Prinsip hidupnya yang teguh menjadikan sosoknya bukan sekadar pemimpin lembaga kepolisian, melainkan juga pahlawan moral yang terus dirindukan oleh masyarakat Indonesia hingga hari ini.

Karakter Hoegeng yang anti-korpsi dan menolak gratifikasi teruji nyata dalam setiap tahapan kariernya. Saat menjabat sebagai Kepala Kepolisian di Sumatera Utara, ia secara terang-terangan menolak fasilitas dan barang-barang mewah pemberian bandar judi dan pengusaha yang mencoba menyuapnya, ia bahkan memerintahkan agar barang-barang perabotan suap tersebut dikeluarkan dari rumah dinasnya dan ditaruh di pinggir jalan.

Ketegasannya dalam menjaga jarak dari konflik kepentingan juga terlihat ketika ia diangkat menjadi pejabat publik, di mana ia meminta istrinya untuk menutup usaha toko bunga keluarga agar tidak ada pihak yang membeli bunga hanya demi mengincar "kemudahan" izin. Bagi Hoegeng, kehormatan dan kebersihan nama baik jauh lebih berharga daripada kekayaan materi.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Beri Sinyal Bea Cukai Batal Dibubarkan Usai Dinilai Membaik oleh Presiden

Pengabdian Hoegeng juga ditandai oleh ketegasannya dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan tanpa rasa takut. Ia tidak segan membongkar kasus-kasus besar yang melibatkan figur-figur berkuasa dan berpengaruh pada zamannya, mulai dari penyelundupan mobil mewah Robby Tjahjadi hingga kasus pemerkosaan Sum Kuning yang menyentuh lingkaran elit.

Sikap kompromistis sama sekali tidak ada dalam kamusnya, yang di kemudian hari disinyalir menjadi alasan utama diberhentikannya Hoegeng dari jabatan Kapolri secara mendadak oleh Presiden Soeharto pada tahun 1971. Meski memegang pangkat Jenderal bintang empat, Hoegeng tidak pernah merasa gengsi untuk turun langsung ke jalan raya mengatur lalu lintas saat melihat kemacetan, membuktikan dedikasi tulusnya sebagai pelayan masyarakat.

Pensiun dari kepolisian tidak lantas melunturkan kesederhanaan dan prinsip hidup Hoegeng. Ia menjalani masa tuanya dengan tenang tanpa bergelimang harta hingga menghembuskan napas terakhir pada 14 Juli 2004 di Jakarta pada usia 82 tahun.

Warisan keteladanan yang ditinggalkannya begitu mendalam, sampai-sampai Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyampaikan kelakar legendaris bahwa di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur, yaitu patung polisi, polisi tidur, dan polisi Hoegeng. Hingga kini, kisah hidup Hoegeng Iman Santoso tetap berdiri kokoh sebagai cermin dan pengingat abadi tentang bagaimana seorang pejabat publik seharusnya bertindak demi bangsa dan nurani.



Editor : Bahana.
hoegeng iman santoso hoegeng Polri