Kalah Tiga Kali Beruntun, Van Gastel Kritik Pemain PSIM Jogja Inkonsistensi
Fahmi Fahriza• Jumat, 17 April 2026 | 21:12 WIB
Pertandingan PSIM Jogja vs Bhayangkara FC
JOGJA - PSIM Jogja kembali menelan hasil mengecewakan setelah kalah 1-2 dari Bhayangkara Presisi FC dalam lanjutan kompetisi BRI Super League pekan 28, Jumat (17/4).
Sempat unggul lebih dulu dan tampil meyakinkan di babak pertama, Laskar Mataram justru kehilangan kendali permainan setelah jeda dan gagal mempertahankan keunggulan.
Secara catatan, ini menjadi tiga kali kekalahan secara beruntun yang dialami PSIM Jogja, setelah sebelumnya kalah melawan Dewa United, dan PSM Makassar.
Di laga melawan Bhayangkara FC, PSIM menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Penguasaan bola berjalan efektif, distribusi antarlini rapi, dan sejumlah peluang berbahaya berhasil diciptakan. Tim mampu membaca celah di pertahanan lawan dan memanfaatkan momentum dengan baik hingga akhirnya membuka keunggulan.
Namun, memasuki babak kedua, ritme permainan berubah signifikan. Intensitas menurun, konsentrasi pemain goyah, dan masalah lama kembali muncul, yakni lemahnya antisipasi dalam situasi bola mati.
Dalam konferensi pers setelah pertandingan, pelatih PSIM Jean Paul van Gastel, secara terbuka mengkritik inkonsistensi timnya yang menurutnya seperti memiliki dua wajah berbeda dalam satu pertandingan.
"Dalam laga ini terlihat jelas bahwa kami seperti tim dengan dua wajah. Di babak pertama kami mampu menciptakan peluang dan menemukan solusi, tapi di babak kedua kami kembali bermasalah dalam situasi bola mati," ujar Van Gastel.
Ia menegaskan, bahwa kebobolan dari skema bola mati bukan pertama kali terjadi, dan hal tersebut seharusnya sudah bisa diantisipasi dengan lebih baik. Selain itu, lemahnya pengawalan terhadap pergerakan pemain lawan juga menjadi penyebab gol kedua Bhayangkara.
"Kami kembali kebobolan dari bola mati, dan pada gol kedua kami gagal mengawal pemain yang bergerak bebas hingga memberikan umpan," lanjutnya.
Dalam kondisi tertinggal, PSIM mencoba mengambil risiko dengan bermain lebih terbuka dan menekan habis-habisan demi menyamakan kedudukan. Namun strategi tersebut justru memberi ruang bagi Bhayangkara untuk melancarkan serangan balik berbahaya.
"Setelah tertinggal 1-2 kami bermain menyerang total. Dalam situasi seperti itu lawan juga mendapat peluang. Ini sangat mengecewakan karena sebenarnya ini kekalahan yang tidak perlu terjadi," tegas Van Gastel.
Hal senada disampaikan kapten tim PSIM Jogja Reva Adi Utama, yang menilai PSIM gagal menjaga konsistensi permainan selama 90 menit penuh. Ia mengakui adanya penurunan fokus yang cukup signifikan di babak kedua.
"Di babak pertama rencana tim berjalan dengan baik, kami bisa mengontrol permainan. Tapi di babak kedua kami sedikit kehilangan fokus, terutama di situasi bola mati. Ini harus jadi perhatian kami ke depan," kata Reva.