RADAR PURWOREJO - Piala Dunia 2026 baru saja usai.
Spanyol menjadi juara setelah mengalahkan Argentina lewat gol tunggal Ferran Torres di perpanjangan waktu.
Tapi yang selain hal itu ada hal menarik lain mengenai bagaimana beberapa negara memperlakukan hasil pertandingan mereka, menang maupun kalah, sebagai alasan sah untuk meliburkan seluruh warganya.
Semua berawal dari Ekuador.
Usai berhasil membalikkan keadaan dan menang 2-1 atas Jerman di babak 32 besar.
Presiden Daniel Noboa langsung mengumumkan hari itu sebagai libur nasional.
Ia berterima kasih kepada tim yang tetap bangkit meski sebelumnya sempat dikritik habis-habisan usai kalah dari Pantai Gading dan cuma seri lawan Curacao.
Empat hari berselang, giliran Paraguay yang mencuri perhatian dengan cara lebih dramatis.
Paraguay berhasil menyingkirkan Jerman lewat adu penalti 4-3, sekaligus mencatatkan kekalahan adu penalti pertama Jerman sepanjang sejarah Piala Dunia.
Presiden Santiago Pena tak butuh waktu lama untuk mengeluarkan dekrit libur nasional, menyebut kemenangan itu melambangkan jiwa juang dan keyakinan rakyat Paraguay yang tak pernah menyerah.
Baca Juga: PSIM Jogja Resmi Rekrut Alwi Fadilah, Solusi Muda untuk Lini Belakang
Untuk hal ini, sebenarnya bukan kali pertama Pena melakukannya.
Pada September tahun lalu, ia bahkan sudah meliburkan negaranya hanya karena Paraguay berhasil lolos ke Piala Dunia, jauh sebelum turnamennya sendiri dimulai.
Tapi yang paling menarik Argentina, yang baru saja kalah 0-1 dari Spanyol di partai final, justru tetap mendapat hari libur nasional dari Presiden Javier Milei.
Meski timnya pulang tanpa trofi dan sempat bermain dengan 10 orang usai salah satu pemainnya dikartu merah.
Uniknya, Milei bahkan belum menentukan tanggal pastinya, menyerahkan keputusan itu pada pemain dan pelatih.
Pengumuman ini sempat bikin bingung warganet Argentina sendiri.
Sebagian mengira itu unggahan yang keliru, sebagian lain berseloroh hari berkabung nasional mungkin lebih pas mengingat hasilnya.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar euforia sesaat.
Sepak bola, khususnya di ajang sebesar Piala Dunia, kerap dijadikan alat pemersatu identitas nasional oleh para pemimpin negara.
Entah untuk merayakan kejutan seperti Ekuador dan Paraguay, atau justru untuk tetap menjaga semangat kolektif rakyatnya meski kalah, seperti yang dilakukan Milei.
Bahkan sebelum turnamen berakhir, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sempat menjanjikan hal serupa.
Berupa hari libur nasional untuk Inggris seandainya berhasil menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 60 tahun terakhir.
Editor : Meitika Candra Lantiva