JAKARTA — Langkah Tim Nasional (Timnas) Indonesia harus terhenti di ajang Piala AFF. Kegagalan ini memicu gelombang evaluasi besar-besaran dari publik sepak bola tanah air. Sorotan tajam kini tertuju pada efektivitas program naturalisasi. Pasalnya, skuad Garuda yang kini diperkuat oleh deretan pemain diaspora papan atas tetap gagal membawa pulang trofi supremasi tertinggi di Asia Tenggara tersebut.
Hasil buruk ini mendadak viral di media sosial dan dikaitkan kembali dengan pernyataan kontroversial Muhammad Tahir. Mantan pemain PSS Sleman tersebut sempat melontarkan kritik pedas dalam sebuah tayangan podcast beberapa waktu lalu. Saat itu, Tahir dengan berani menyebut bahwa kualitas pemain diaspora sebenarnya "11-12" alias tidak jauh berbeda dengan kualitas pemain lokal yang berkompetisi di Liga 1.
Baca Juga: Tanam 20 Ribu Mangrove, Menumbuhkan Ketahanan Ekosistem Pesisir
"Kualitas mereka itu sama. Cuma mereka main di luar negeri, kita di dalam negeri. Kalah jam terbang saja. Coba adakan uji coba antara pemain lokal dan diaspora, saya yakin pemain lokal bisa menang," ujar Tahir dalam kutipan podcast yang kini kembali menggema di jagat maya.
Kekalahan Timnas Indonesia di Piala AFF seolah menjadi panggung pembenaran bagi kritik tersebut. Di atas lapangan, koordinasi antar lini terlihat rapuh dan determinasi yang diharapkan dari para pemain yang merumput di Eropa tidak cukup kuat untuk membongkar pertahanan lawan-lawan di Asia Tenggara. Skema permainan kolektif yang menjadi ciri khas tim rival justru berhasil meredam determinasi individu para pemain diaspora.
Baca Juga: Pengakuan Para Korban di SMKN 1 Nanggulan: Kapok Keracunan, Minta Diuangkan
Pengamat sepak bola nasional menilai, kekalahan ini menjadi sinyal kuat bahwa sepak bola tidak bisa instan hanya dengan mengandalkan paspor ganda. Masalah kemistri, adaptasi cuaca ekstrem Asia Tenggara, hingga pemahaman taktik pelatih tetap menjadi faktor penentu. Ketika pemain diaspora gagal menunjukkan performa yang dominan di level regional, wajar jika publik mulai mempertanyakan apakah kompetisi lokal benar-benar tertinggal jauh, ataukah penilaian terhadap pemain diaspora yang terlalu dilebih-lebihkan.
Editor : Heru Pratomo