Di usia yang baru 16 tahun, Athaullah Daib Pratama sudah mendapat kesempatan berlatih, sekaligus promosi ke tim senior PSIM Jogja. Penjaga gawang muda itu kini harus membagi waktunya antara bangku sekolah dan lapangan latihan.
Daib lahir pada 9 April 2010, dan kini tetap menjalani rutinitas sebagai pelajar kelas XI di SMAN 2 Playen, Gunungkidul. Selepas sekolah, ia bergegas menuju tempat latihan PSIM di Kota Jogja untuk berlatih bersama pemain-pemain yang usianya jauh lebih senior.
Di tengah rutinitas tersebut, ia juga menyimpan mimpi untuk terus berkembang hingga suatu saat bisa mengenakan seragam Timnas Indonesia.
"Pertama saya mengucapkan alhamdulillah bisa masuk di tim senior di umur 16 tahun ini. Di samping itu ada kerja keras dari saya, dari seleksi EPA, lalu main di EPA, terus alhamdulillah bisa masuk ke tim senior ini," ujar Daib, Rabu (12/8).
Perjalanan tersebut tidak datang secara tiba-tiba. Sebelum bergabung dengan EPA PSIM, Daib telah menekuni sepak bola sejak usia belia. Salah satu pengalaman penting dalam proses pembentukannya ketika ia tergabung dengan tim Barati dan bertanding dalam Gothia Cup di Swedia, di mana, saat itu, usianya baru 13 tahun.
"Sempat ke Swedia juga ikut tim Barati. Tahun 2023, umur 13 tahun. Itu seleksinya di Bali. Terus alhamdulillah saya terpilih, terus berangkat ke Swedia pada tahun 2023," tuturnya.
Baca Juga: Di Depan Gubernur DIY HB X, Bupati Kulon Progo Minta Jalan Dekso-Plono Segera Diperbaiki
Di PSIM, Daib juga tidak lepas dari peran pelatih yang sejak kecil ikut membentuk kemampuannya. Salah satu sosok yang disebut banyak memberikan masukan kepadanya adalah Oni Kurniawan.
Bukan hanya teknik penjagaan gawang, Daib mengaku mendapatkan pesan sederhana yang terus diingat ketika berada di lapangan. Ia diminta bermain dengan hati dan tidak terlalu terbebani.
"Terutama saat bermain, dia bilang ke saya, bermainlah pakai hati. Bermain santai saja," katanya.
Berbagai teknik penjaga gawang juga terus diberikan selama proses pembinaan. Kini, ilmu tersebut harus diterapkannya ketika berlatih bersama pemain-pemain yang secara usia jauh lebih senior di skuad PSIM.
Baca Juga: Diduga Lalai Saat Dicas, Sepeda Listrik Terbakar hingga Lahap Rumah Warga di Comal Pemalang
Alih-alih merasa minder, Daib justru menikmati pengalaman tersebut. Setiap sesi latihan menjadi kesempatan baginya untuk belajar dari pemain yang sudah lebih dulu merasakan atmosfer sepak bola profesional.
"Tidak ada beban, dan rasanya sangat senang. Banyak belajar juga dari senior-senior," ujar Daib.
Menariknya, Daib juga langsung merasakan pengalaman dilatih pelatih asing. PSIM saat ini ditangani Jean Paul van Gastel, pelatih asal Belanda yang membawa pengalaman sepak bola Eropa ke dalam lingkungan tim.
Baca Juga: Polres Karanganyar Bekuk Pengedar Sabu Kelas Kakap, Sita 110 Paket Seberat 105 Gram Siap Edar
Selain itu, ada juga Mario Capece yang saat ini menjadi pelatih kiper PSIM Jogja. Pelatih kiper asal Italia tersebut jadi salah satu orang yang turut merekomendasikan Daib untuk naik ke tim senior PSIM Jogja.
Secara pribadi, Daib mengaku senang mendapatkan kesempatan tersebut. Menurutnya, pengalaman dilatih pelatih asal Eropa menjadi bagian penting dari proses perkembangannya.
"Kalau bagi saya tentu senang bisa dilatih dengan pelatih asing yang notabene dari Eropa. Bisa membawa budaya Eropa ke Indonesia sini," katanya.
Lebih lanjut, meski sudah berstatus pemain tim senior, kehidupan Daib sebagai pelajar belum berhenti. Setiap pagi, ia tetap menjalani aktivitas sekolah di SMAN 2 Playen. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju tempat latihan PSIM pada sore hari.
Baca Juga: Warning! Hanya dalam Tempo Enam 6 Bulan, 26 Anak di Wonogiri Jadi Korban Kekerasan
Rutinitas tersebut membuat Daib hampir setiap hari harus menempuh perjalanan pulang-pergi antara Gunungkidul dan tempat latihan PSIM di kota Jogja. Untuk mobilitas, ia mengaku lebih sering menggunakan sepeda motor.
"Kalau latihannya sore, saya berangkat sekolah dulu. Habis itu saya izin di siang hari, terus langsung berangkat ke latihan," ungkapnya.
Secara garis besar, tidak setiap hari ia harus meninggalkan sekolah dalam waktu lama. Namun, terdapat agenda tertentu bersama PSIM yang berlangsung pada pagi hari sehingga membuatnya harus izin sepenuhnya dari kegiatan belajar.
"Ada momen tertentu saya harus izin dan nggak bisa datang ke sekolah," katanya.
Baca Juga: Viral! Kurir Kaget Antar Paket COD Berbentuk Buaya, Netizen: Ini Hewan Beneran?
Di tengah tuntutan tersebut, orang tua menjadi pihak yang terus memberikannya dukungan. Daib mengatakan pesan yang diberikan orang tuanya sederhana, bahwa ia harus menjalani proses terlebih dahulu tanpa terlalu membebani diri dengan berbagai target.
"Kalau orang tua pesannya kepada saya, jalani dulu aja," ujarnya.
Dukungan tersebut membuat Daib bisa menikmati fase barunya sebagai pemain muda di tim senior. Ia mengaku tidak merasakan beban berlebihan ketika harus bersaing dan berlatih bersama para pemain yang lebih berpengalaman.
Targetnya pun tidak muluk untuk musim pertama. Ia ingin terus berkembang dan menjadi pemain yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Untuk saat ini, fokusnya tetap pada proses bersama PSIM. Kontraknya bersama tim senior berlangsung selama satu musim. Ia juga masih memiliki ruang untuk terus berkembang melalui pertandingan EPA apabila mendapat kesempatan.
"Semoga bisa menjadi lebih baik dari kemarin. Kalau target masuk timnas itu ada. Semoga bisa," ucapnya. (iza)
Editor : Heru Pratomo