RADAR PURWOREJO - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Tengah tengah membentuk perumus untuk kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026. Rencananya, KONI bakal memangkas cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan hingga ada batasan usia para atlet.
Wakil Ketua V KONI Provinsi Jawa Tengah Sudarsono mengutarakan, wacana soal pemangkasan cabor itu didasarkan pada kejuaraan sebelumnya. "KONI tidak ingin Porprov Jateng 2026 mendatang seperti porprov-porprov sebelumnya, yang cenderung hanya jadi ajang pesta sesaat," ujarnya.
Bahkan, dari 60 cabor yang dipertandingkan pada porprov 2023 lalu, ada cabor yang kurang layak dilakukan. Karena sebaran cabor hanya berkembang di beberapa kabupaten/kota saja, berpotensi tidak akan dipertandingkan. Sebab hal itu membuat daerah lain kesulitan mengejarnya.
Selain itu, KONI juga tidak akan mempertandingkan cabor yang tidak ada regenerasi atlet. Sebab berdasarkan hasil evaluasi internal, ada beberapa atlet dari cabor yang masih tidak mengalami perubahan.
"Prinsipnya, kita akan berlakukan pembatasan usia. Meskipun dalam pelaksanaan nanti batasan usia atlet tersebut akan dikembalikan ke masing-masing cabor," terangnya.
Tidak hanya itu, nantinya KONI juga bakal menerapkan pembatasan prestasi. Sudarsono mencontohkan, atlet yang pernah mewakili Indonesia pada PON, Sea Games, atau lainnya dan meraih medali, tidak semestinya diikutsertakan dalam porprov.
"Sudah tidak kelasnya. Justru dia harus dipersiapkan lebih lanjut untuk jenjang yang lebih tinggi. Sehingga ini akan mendorong tumbuh kembangnya atlet-atlet potensial usia muda," ungkapnya.
Baca Juga: Dinilai Wajar, Harga Kebutuhan Pangan di Kebumen Diklai Stabil di Bulan Ramadhan
Beberapa aturan tersebut, kata dia, sudah dalam tahap penggodokan dan sudah disosialisasikan sebelumnya. "Pada prinsipnya bisa dilaksanakan saat porprov 2026. Memang dengan pengurangan cabor juga," imbuhnya.
Ketua KONI Kota Magelang Ali Sobri Sungkar menyebut, rencana pengurangan cabor pada porprov mendatang akan berdampak bagi para atlet. Lantaran belum ada kejelasan soal pembatasan atlet dan pengurangan cabor.
Ali mencontohkan, pengurangan cabor itu ternyata dilakukan pada salah satu nomor pertandingan. Yang mana Kota Magelang memiliki atlet andalan. "Ternyata nomor pertandingan itu tidak dipertandingkan. Targetnya bisa medali emas. Kita jadi kehilangan satu medali emas," terang Ali.
Selain itu, jika pengurangan cabor karena faktor sedikitnya kabupaten/kota yang miliki cabor tertentu, maka kabupaten/kota tersebut sangat dirugikan. Seperti arung jeram. Sedangkan, cabor tersebut sangat dominan untuk meraih medali.
Dia berharap, wacana tersebut harus segera disampaikan kepada KONI di masing-masing daerah. "Agar ikut menyikapi atau menanggapi terkait hal ini (pembatasan usia dan pemangkasan cabor)," urainya. (aya)
Editor : Heru Pratomo