RADAR PURWOREJO - Enzo Maresca resmi meninggalkan jabatannya sebagai pelatih kepala Chelsea FC setelah 18 bulan bertugas pada Kamis (1/1/2026).
Kepergian pelatih asal Italia ini terjadi di tengah merosotnya performa The Blues dan retaknya hubungan hubungan Maresca dengan manajemen klub.
Selama masa kepelatihannya bersama Chelsea, Maresca mampu mendapatkan trofi UEFA Conference League dan FIFA Club World Cup.
Dalam pernyataan resmi di website Chelseafc.com, Chelsea menyatakan terima kasih kepada Enzo Maresca atas pencapaiannya bersama klub selama ini.
Maresca dan Chelsea sepakat bahwa perpisahan kedua pihak adalah jalan terbaik untuk mengembalikan performa klub sekarang.
Kilas Balik dan Prestasi di Chelsea
Enzo Maresca awalnya ditunjuk pada bulan Juni 2024 dengan kontrak berdurasi lima tahun.
Berbekal rekam jejak sukses menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City dan pernah menjuarai Championship bersama Leicester City, Chelsea menunjuk Maresca untuk menggantikan Mauricio Pochettino pada saat itu.
Pada musim pertama, ia juga sukses membawa Chelsea finis di peringkat empat English Premier League, sekaligus mengamankan tiket kualifikasi UEFA Champions League bagi klub.
Sebuah pencapaian yang memang merupakan target klub pada saat itu.
Selanjutnya, Maresca sebenarnya juga berhasil mempersembahkan prestasi signifikan dengan menjuarai UEFA Conference League setelah mengalahkan Real Betis 4-1 dan menjuarai FIFA Club World Cup setelah kemenangan besar 3-0 atas PSG.
Permasalahan Internal dan Penurunan Performa
Meskipun memiliki beberapa catatan trofi, hal ini masih belum menjamin keamanan posisi Enzo Maresca di kursi kepelatihan Chelsea.
Kombinasi hasil buruk dan konflik internal dengan manajemen klub menjadi faktor utama yang memperburuk hubungan kedua belah pihak.
Menurut jurnalis Sky Sports, Kaveh Solhekol, terdapat beberapa faktor di dalam dan di luar lapangan yang membuat hubungan Maresca dan manajemen Chelsea merenggang dan akhirnya sepakat untuk berpisah.
Rentetan hasil buruk Chelsea di beberapa pertandingan terakhir ini menunjukkan performa yang mengecewakan dan tidak cukup baik untuk standar klub.
Ini termasuk hasil buruk di kompetisi English Premier League dan UEFA Champions League.
"Alasan pertamanya? Hasil pertandingan. Capaian mereka benar-benar belum cukup baik. Chelsea hanya memenangkan satu dari tujuh laga terakhir mereka di Liga Premier, dan mereka telah kehilangan 20 poin dari posisi unggul, baik di liga maupun Liga Champions musim ini," kata Kaveh Solhekol.
Terdapat juga perbedaan pendapat antara Maresca dengan internal klub soal protokol kapan pemain cedera boleh merumput kembali.
Dalam hal ini, Maresca tidak memiliki hak untuk memutuskan.
"Alasan kedua adalah adanya perselisihan di balik layar mengenai protokol pemulihan (return-to-play) bagi pemain yang cedera. Chelsea memiliki departemen medis independen yang memegang keputusan mutlak. Dari sudut pandang Chelsea, pelatih kepala tidak akan pernah memiliki wewenang terakhir terkait hal tersebut," imbuhnya.
Selain itu, ada juga faktor dari luar klub seperti rumor ketertarikan Juventus dan Manchester City kepada Enzo Maresca yang dianggap menjadi distraksi untuk performa tim baru-baru ini.
"Alasan lainnya, dari sudut pandang Chelsea, adalah dikaitkannya Maresca dengan pekerjaan di klub lain seperti Juventus dan Manchester City.
Muncul anggapan di internal klub bahwa rumor-rumor ini menjadi gangguan, serta terjadi berbarengan dengan merosotnya performa dan hasil pertandingan," ujar Kaveh Solhekol dalam menjelaskan faktor mengapa Enzo Maresca meninggalkan Chelsea.
Menurut jurnalis Sky Sports tersebut, situasi ini dilihat sebagai keputusan bersama (mutual decision), dimana Maresca merasa tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaannya di Chelsea dan disaat yang sama manajemen klub juga ingin melakukan perubahan.
Kandidat Pengganti: Liam Rosenior
Dengan kosongnya kursi kepelatihan Chelsea, manajemen klub akan segera melakukan penunjukan manajer permanen, yang sekaligus menjadi manajer keempat di era kepemilikan Todd Boehly dan Clearlake Capital (BlueCo) sejak tahun 2022 lalu.
Nama Liam Rosenior mencuat sebagai salah satu kandidat potensial yang akan menggantikan Enzo Maresca.
Liam Rosenior, pria Inggris berusia 41 tahun yang saat ini menjabat sebagai manajer klub Strasbourg, klub Prancis yang merupakan mitra Chelsea di bawah payung kepemilikan BlueCo.
Rekam jejak kepelatihan Liam Rosenior di level elite memang masih minim.
Dirinya pernah membawa Hull City hampir menembus play-off Championship pada 2024 sebelum pindah ke Prancis dan membawa Strasbourg finis ketujuh di Ligue 1 musim lalu.
Ada pandangan di internal Chelsea bahwa menunjuk Liam Rosenior bukanlah risiko besar, meski hal itu akan menjadi lonjakan karier yang masif baginya.
Mengutip pernyataan dari akun X jurnalis Fabrizio Romano, manajemen Chelsea memandang Liam Rosenior sebagai kandidat utama untuk menjadi manajer baru Chelsea menggantikan Enzo Maresca.
"Liam Rosenior tetap menjadi kandidat terdepan dalam daftar incaran untuk menjadi pelatih kepala baru Chelsea. Ia dinilai sangat tinggi oleh jajaran petinggi Chelsea sebagaimana terungkap beberapa minggu lalu, dan hari ini dilaporkan sebagai kandidat utama," tulisnya dalam akun X Fabrizio Romano. (Aqbil Faza Maulana)
Editor : Meitika Candra Lantiva