Berkunjung ke Kabupaten Rembang tak hanya memanjakan mata dengan pesona alam dan jejak sejarahnya, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang khas.
Dari sekian banyak oleh-oleh yang ditawarkan, olahan buah kawis menjadi salah satu ikon kuliner yang diburu wisatawan. Minuman sari buah kawis yang dikenal dengan sebutan Java Cola telah lama menjadi simbol kekayaan cita rasa lokal Rembang.
Seiring berkembangnya kreativitas pelaku UMKM, olahan kawis kini tidak lagi hadir dalam satu bentuk saja.
Selain sari buah yang menyegarkan, kawis diolah menjadi beragam produk lain seperti manisan, sirup, hingga kudapan khas yang menggugah selera.
Inovasi ini membuat Jawa Cola dan aneka turunannya semakin diminati, baik oleh wisatawan maupun masyarakat lokal.
Perpaduan rasa manis, asam, dan aroma khas buah kawis menjadikan produk ini bukan sekedar oleh-oleh, melainkan reprsentasi kekayaan alam dan kearifan lokal Rembang.
Dengan inovasi yang semakin banyak, olahan kawis kini bersaing sebagai produk unggulan daerah sekaligus membawa nama Rembang semakin dikenal.
Melansir dari Radar Pati, pemilik usaha oleh-oleh Paseco, Eni Yuliastuti mengungkapkan bahwa pihaknya kini menghadirkan produk manisan kawis sebagai salah satu varian olahan.
Bahkan ia mengaku sempat bereksperimen membuat dodol berbahan kawis, namun produk tersebut belum dilepas ke pasar karena kualitasnya masih perlu disempurnakan.
Ia menjelaskan, manisan kawis menyasar konsumen anak-anak. Kombinasi rasa manis dengan karakter khas buah kawis menghadirkan sensasi renyah saat disantap.
Produk inovasi tersebut kini banyak diminati sebagai camilan ringan, terutama untuk menemani waktu bersantai anak-anak dirumah.
Permintaan produk olahan kawis cenderung meningkat saat memasuki musim liburan panjang maupun menjelang hari besar keagamaan.
Selain dijual langsung, manisan kawis kini juga dipasarkan melalui para reseller di berbagai platfrom marketplace dan melayani pemesanan hampir setiap hari.
Soal harga, produk ini dibanderol relatif murah, yakni sekitar 10 ribu rupiah untuk kemasan 50 gram. Keunggulan lainnya dari produk ini adalah manisan kawis dapat bertahan hingga satu tahun meski disimpan pada suhu ruang.
Pengembangan prodduk berbahan kawis tidak hanya berhenti pada manisan. Pelaku UMKM terus menghadirkan inovasi baru yang menyesuaikan tren dan selera konsumen.
Salah satu terobosan barunya adalah bubble cao atau cincau berbasis buah kawis.
Produk ini dikemas dan direncanakan mulai dipasarkan menjelang hari raya 2026, dengan cita rasa segar yang dinilai pas sebagai sajian minuman khas Lebaran.
Menariknya, bubble cao kawis juga telah melewati proses kurasi di Bahrain, termasuk varian sirupnya.
Olahan ini memiliki fleksibilitas tinggi karena bisa diolah menjadi beragam minuman, baik dipadukan dengan susu maupun dikreasikan sesuai kebutuhan.
Saat ini, pelaku UMKM masih melakukan penyempurnaan pada aspek pengemasan. Tantangan utama adalah mencari kemasan yang kuat dan aman agar produk tidak mudah bocor atau rusak.
Kini produksi bubble cao terus ditingkatkan untuk mengimbangi lonjakan permintaan menjelang hari raya.
Minuman ini juga tergolong praktis karena mudah disajikan sendiri di rumah sebagi pelepas dahaga.
Untuk satu paket, harganya dipatok sekitar 20 ribu rupiah, dengan rencana menghadirkan varian harga yang lebih terjangkau kedepannya.
Selain dipasarkan melalui marketplace, aneka produk UMKM Paseco juga bisa ditemukan di sejumlah pusat oleh-oleh, seperti Rumah BUMN dan Lumba-Lumba di wilayah Rembang Kota.
Ke depannya, Eni menegaskan pihaknya akan lebih fokus pada peningkatan kapasitas produksi, memperluas jaringan reseller, serta menjaga kualitas produk agar tetap konsisten dan diminati pasar.
Penulis: Alif Rizki Wahyu N K