SOLO - Wisatawan dapat menikmati sudut Klaten kota dengan cara baru. Yakni berjalan kaki sembari menelusuri jejak sejarah kolonial hingga masa kemerdekaan.
Paket wisata edukatif ini digagas oleh Komunitas Klaten Lampau melalui kegiatan Walking Tour yang mulai rutin menyapa publik di jantung Kota Bersinar.
Kami berkesempatan mengikuti edisi jilid kedua bertajuk "Berjalan ke Stadion Trikoyo", Minggu (8/2/2026). Perjalanan ini mengungkap banyak fragmen sejarah yang selama ini jarang diketahui warga lokal.
Penelusuran dimulai dari Alun-alun Klaten. Dipandu oleh pegiat sejarah Airell Luthfan Ababiel dan Naudal Sa’ad, peserta diajak melihat kembali tata kota masa lampau. Salah satu fakta mengejutkan yang diungkap adalah kawasan Masjid Raya dan Alun-Alun Klaten dahulunya merupakan lokasi Benteng Engelenburg.
Tak jauh dari sana, sejarah Lapas Klaten juga dikupas. Sebelum menempati lokasi saat ini, penjara Klaten berada di dalam kompleks benteng tersebut. Bangunan yang kini dikenal sebagai lapas pada masa kolonial sebenarnya berfungsi sebagai Schakel School atau Sekolah Peralihan.
Rute berlanjut menyusuri Jalan Tentara Pelajar hingga berhenti di Stadion Trikoyo. Di sini, narasi sejarah olahraga Klaten dibuka lebar. Faktanya, stadion ini sudah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, beriringan dengan lahirnya klub sepak bola PSIK Klaten pada era 1930-an.
Penelusuran berakhir di kompleks Gedung Sunan Pandanaran (RSPD) Klaten, yang juga memiliki rekam jejak sejarah yang kuat sebagai pusat aktivitas sosial di masa lalu. Berbeda dengan jalan-jalan biasa, walking tour ini menyuguhkan bukti otentik.
Para pemandu membekali diri dengan salinan peta kuno dan kliping berita surat kabar masa kolonial untuk memvalidasi setiap cerita. "Respons peserta sejauh ini sangat memuaskan. Apa yang kami sampaikan memicu rasa penasaran mereka untuk menggali lebih dalam tentang identitas kotanya sendiri," ujar Airell Luthfan Ababiel.
Menariknya, peminat kegiatan ini tidak hanya datang dari Klaten, tetapi juga mahasiswa asal Jawa Timur yang sengaja datang dari Jogjakarta untuk merasakan sensasi berwisata sejarah di Klaten.
Kegiatan ini kini menjadi alternatif wisata edukatif yang terjangkau. Bagi masyarakat yang tertarik mengikuti rute berikutnya, Komunitas Klaten Lampau akan membagikan jadwal melalui akun Instagram resmi mereka.
Uniknya, komunitas ini menerapkan sistem pembayaran pay as you wish (bayar seikhlasnya) di akhir kegiatan sebagai bentuk apresiasi terhadap narasi yang disampaikan. (ren/laz)
Editor : Sevtia Eka Nova