MUNGKID - Perayaan Waisak Nasional 2570 BE/2026 di Candi Borobudur dipastikan kembali menghadirkan satu momen paling dinanti, yakni pelepasan lentera perdamaian dunia atau lampion. Tahun ini, sebanyak 2.570 lentera akan diterbangkan serta pertunjukan 570 drone yang menghadirkan visual kisah Sang Buddha.
Ketua Lentera Perdamaian Waisak 2026, Fatmawati menjelaskan, pelepasan lentera selalu menjadi magnet utama dalam rangkaian Waisak di Borobudur. Namun, tahun ini terdapat pembaruan konsep, termasuk perubahan penamaan dari lampion menjadi lentera perdamaian dunia.
"Kami ingin lebih menegaskan maknanya, bukan sekadar lampion, melainkan lentera perdamaian yang membawa harapan bagi dunia," ujarnya saat konferensi pers, Jumat (22/5).
Perubahan tersebut, lanjut Fatmawati, juga dilatarbelakangi kondisi global yang tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketegangan politik hingga ketidakpastian ekonomi. Melalui simbol cahaya, perayaan ini diharapkan menjadi refleksi bersama akan pentingnya kedamaian.
Mengusung semangat Light of Peace, seluruh peserta yang mengikuti prosesi pelepasan lentera akan terlebih dahulu menjalani meditasi bersama. Momen hening ini menjadi inti dari rangkaian acara, yang mana peserta diajak menemukan kedamaian batin sebelum menerbangkan lentera.
"Semua dimulai dari meditasi. Ketika batin sudah damai, kita menyalakan pelita dalam diri. Dari situ, kita bisa menyebarkan cahaya kedamaian ke lingkungan, bangsa, bahkan dunia," bebernya.
Tidak hanya menghadirkan simbol tradisional, lanjut dia, perayaan Waisak tahun ini juga diperkaya dengan pendekatan teknologi melalui pertunjukan drone. Sebanyak 570 drone akan diterbangkan membentuk berbagai visual di langit Borobudur.
Fatmawati menjelaskan, berbeda dari tahun sebelumnya yang didominasi warna monokrom, drone show tahun ini akan tampil lebih berwarna dengan alur cerita baru. Visualisasi tersebut juga disusun dengan melibatkan para biksu dari Tailan, sehingga tetap selaras dengan nilai-nilai spiritual Waisak.
"Tahun ini lebih berwarna dan ada storytelling baru. Konsepnya juga melibatkan biksu dari Thailand, jadi ada sentuhan spiritual yang kuat dalam visual modern ini," terangnya.
Baca Juga: Warga Karangwuni, Wates Tuntut Ganti Rugi Psikis, usai Enam Tahun Pengadaan Tanah JJLS Tertunda
Pelepasan lentera dan drone show tersebut menjadi bagian dari puncak perayaan Waisak yang jatuh pada 31 Mei 2026. Namun secara keseluruhan, rangkaian Waisak telah dimulai sejak awal bulan dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.
Wakil Ketua Panitia Waisak 2026, Karuna Murdaya menjelaskan, Waisak bukan hanya perayaan seremonial. Tetapi momentum refleksi diri di tengah dinamika global yang penuh tekanan. "Di tengah hiruk-pikuk dunia, Waisak menjadi momen untuk berhenti sejenak, mencari keheningan, dan menjernihkan pikiran agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik," paparnya.
Selain itu, terdapat pula kegiatan keagamaan seperti kedatangan biksu dalam program Indonesia Walk for Peace dan ritual Nyingma Monlam. Memasuki puncak rangkaian, pada 29 Mei akan dilakukan pengambilan api suci dari Mrapen, Grobogan, disusul pengambilan air suci dari Umbul Jumprit pada 30 Mei. Pada 31 Mei, prosesi dimulai dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sejak pukul 10.00. Karuna menyebut, untuk detik-detik Waisak akan diperingati pada pukul 15.44.44 di pelataran Borobudur. (aya)
Editor : Heru Pratomo