KULON PROGO - Festival layang-layang yang bertajuk Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 telah resmi digelar sejak 4-5 Juli 2026 di barat Jembatan Kabanaran. Kegiatan bagi penghobi layang-layang ini, berfokus pada edukasi pelayang lokal.
Ketua Panitia JIKF Anang Sarjiyanto menjelaskan, road to JIKF bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kulon Progo. Langkah ini, diambil mengingat potensi dari JIKF dapat menarik pariwisata di daerah. Sekaligus memicu perputaran ekonomi di sekitar lokasi. "Total ada 30 klub yang akan bertanding, 17 klub di antaranya berasal dari luar negeri," ucap Anang, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (5/7).
Anang menjelaskan, setiap klub biasanya menerjunkan dua sampai tiga layang-layang. Sehingga, partisipasi layang-layang akan lebih dari 30 buah.
Baca Juga: Sidang Praperadilan Raudi Akmal Dijadwalkan 20 Juli, Hakim Wajib Putuskan dalam Tujuh Hari
Dalam kompetisi road to JIKF, terbagi menjadi dua kategori, yaitu dewasa dan anak-anak. Kategori dewasa melombakan jenis layang-layang tradisional, kreasi, hingga train dragon. Sedangkan kategori anak-anak, hanya melombakan jenis layang-layang train dragon.
Perlombaan layang-layang akan dinilai oleh juri profesional. Penilaian meliputi, estetika, kerjasama, hingga etika pelayang. Juri akan menilai layang-layang sebelum diterbangkan. Saat prosesi penerbangan, juri juga akan menilai faktor safety kiting.
Hal ini menjadi fokus panitia, mengingat banyak pelayang yang abai akan faktor keamanan. "Fokus kami tidak hanya kompetisi, tapi edukasi, karena banyak pelayang yang nekat naik layang-layang," ungkapnya.
Baca Juga: Riyadhoh Jisim dan Nafs, Dua Jenis Latihan Rohani dalam Islam
Anang menjelaskan, pihaknya sering menemukan pelayang lokal dengan jenis layang-layang train dragon yang menunggangi layangannya. Layang-layang jenis ini, memang kuat untuk mengangkat beban lebih dari puluhan kilogram. Namun, sangat berbahaya jika pelayang nekat melakukannya. Lantaran, layang-layang tidak stabil dan dapat melukai pelayang.
Edukasi lain juga berkaitan dengan, bahaya bermain layang-layang di jalur saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) hingga area dekat bandara. Untuk menggelar acara, panitia sengaja mencari lokasi jauh dari SUTET dan bukan kawasan penerbangan. Kendati jauh dari kedua tempat itu, pihaknya menggandeng PLN dan Airnav. Tujuannya, ikut serta memberikan edukasi ke pelayang.
Baca Juga: Festival Layang-Layang Nasional 2026 Digelar di Pantai Ketawang, Diikuti 31 Tim dari Empat Negara
Sementara itu, Ketua Tim Layang-Layang Grasesa Caesar Arya Gautama menjelaskan, timnya berasal dari Bantul. Timnya mengikuti kategori anak-anak jenis train dragon. Satu buah layangan jenis train dragon dengan diameter satu meter dan panjang 80 meter disiapkan dalam perlombaan. "Persiapannya empat bulan lalu, karena bentuk train dragon cukup sulit dibuat," ungkapnya.
Pembuatan layang-layang jenis train dragon diklaim lebih sulit. Pasalnya, bentuk kepala menyerupai kepala naga perlu dibuat semirip mungkin. Sedangkan ekornya dibuat dari cakram kain yang disambung. Pembuatan layang-layang ini, harus mempertimbangkan unsur keindahan. Lantaran, layang-layang train dragon saat diterbangkan akan meliuk-liuk di udara. Total anggaran untuk membuat layang-layang ini mencapai Rp 5 juta. (gas/pra
Editor : Heru Pratomo