RADAR PURWOREJO - Sungai Bogowonto sebenarnya bukan destinasi baru bagi warga Purworejo.
Sungai sepanjang sekitar 67 kilometer ini mengalir dari kawasan Pegunungan Menoreh dan Pegunungan Serayu Selatan, melintasi Kabupaten Wonosobo dan Magelang di bagian hulu, sebelum bermuara di Samudra Hindia lewat wilayah Purworejo.
Salah satu titik paling ikonik di sepanjang aliran sungai ini berada di Kelurahan Pangenrejo, Kecamatan Purworejo, yang sejak beberapa tahun lalu dijuluki warga sebagai "Grand Canyon mini".
Baca Juga: Video "Yank Uwes Yank" Banyuwangi Viral! Pria yang Mengaku Terlibat Muncul dan Sampaikan Klarifikasi
Saat musim kemarau tiba dan debit air surut, dasar sungai di titik ini menampilkan ukiran batu alami yang membentang sekitar 1 kilometer, lengkap dengan palung-palung kecil berisi air jernih berwarna hijau tosca.
Namun formasi batuan ini bersifat musiman dan tidak permanen.
Hanya benar-benar terlihat jelas saat air surut di musim kemarau.
Di luar fungsinya sebagai spot foto, Sungai Bogowonto juga dikenal sebagai lokasi arung jeram (rafting) dengan jarak tempuh 12-14 kilometer, tersedia dalam tiga pilihan trip: pendek, sedang, dan panjang, dengan durasi bermain 1-2,5 jam tergantung jenis trip yang dipilih.
Meski arusnya tergolong deras, jeram di sungai ini disebut cukup aman untuk pemula.
Karena berstatus spot alam gratis, bukan destinasi wisata resmi berbayar dengan pengelolaan formal, ada beberapa hal penting yang perlu jadi catatan:
Pertama, akses jalan menuju lokasi cenderung sempit dan menantang.
Melewati jembatan yang hanya bisa dilalui satu kendaraan dalam satu waktu, sehingga pengunjung perlu ekstra hati-hati saat berkendara menuju lokasi.
Baca Juga: MBG-KDMP Pukul Sektor Konstruksi di Kulon Progo, Anggaran Bergeser, Proyek Pembangunan Daerah Turun
Kedua, karena tidak ada pengelolaan resmi seperti destinasi wisata berbayar pada umumnya, tidak ada fasilitas keamanan standar seperti penjaga atau petugas pengawas di lokasi.
Artinya, keselamatan pengunjung sepenuhnya jadi tanggung jawab masing-masing, terutama mengingat sungai ini memiliki palung dengan kedalaman yang tidak diketahui pasti di beberapa titik.
Ketiga, waktu terbaik berkunjung adalah sore hari menjelang senja.
Selain untuk menghindari terik matahari, juga karena itulah momentum paling ideal menangkap pemandangan langit keemasan.
Keempat, pengunjung supaya menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan sampah di area sungai, mengingat lokasi ini merupakan alam yang tidak memiliki petugas kebersihan rutin.