JOGJA - Potensi wisatawan yang berwisata ke DIY ditangkap oleh Suara Muhammadiyah. Yang terbaru dengan membangun toko oleh-oleh, Pusat Oleh-Oleh Jogja 1915 di kantor Suara Muhammadiyah Jl. KH. Ahmad Dahlan, No. 107, Notoprajan, Ngampilan, Jogja.
"Pusat oleh-oleh 1915 itu bukan berarti buka habis Isya sampai subuh," kata Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah Deni Asy’ari dalam soft opening Pusat Oleh-Oleh Jogja 1915, Selasa (11/8).
"Tahun 1915 merupakan tahun lahirnya Majalah Suara Muhammadiyah, tepatnya 13 Agustus 1915, yang kini menjadi media tertua di Indonesia yang masih bertahan dan terus berkembang pesat melebihi usia satu abad," tambahnya.
Baca Juga: Diduga Tak Sabar Menunggu Kereta, Pemuda Rusak Palang Perlintasan Gamping
Tak hanya itu, Pusat Oleh-Oleh Jogja 1915 juga menyediakan jajanan khas yang lain dari pusat oleh-oleh lainnya. Yaitu produk yang menjadi andalan Bakpia Cahya dan Rendang Datuk. Selain itu dalam toko juga menyediakan produk hasil UMKM warga persyarikatan dan warga sekitar SM Tower.
"Karena yang membedakan karena amal usaha kami ini tak sekadar mencari profit dan benefit tapi juga sebagai bentuk keberpihakan dan keadilan," jelasnya.
Deni menjelaskan, alasan Suara Muhammadiyah juga membangun toko oleh-oleh berdasarkan potensi wisatawan yang berlibur ke DIY, rerata mencapai tiga juta orang per tahun. Jika 10 persennya saja warga persyarikatan Muhammadiyah, jadi potensi ekonomi.
Baca Juga: Tiga BMT Dilaporkan ke Polres Karanganyar, Diduga Bermasalah: Omzet Capai Miliaran
Berdasarkan data, Suara Muhammadiyah yang juga memiliki amal usaha hotel ini, menunjukkan pada akhir tahun lalu jumlah kunjungan wisatawan naik tapi tidak berbanding lurus dengan okupansi hotel. "Yang berbanding lurus justru pusat oleh-oleh," terangnya.
Wakil Ketua Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (LPEK) PP Muhammadiyah, Tetra Budiarto pun menyambut baik hadirnya pusat oleh-oleh Jogja 1915. Apalagi lokasinya yang strategis menjadi jalur wisatawan antara Titik Nol Kilometer Jogja dengan Taman Parkir Ngabean. Dia mengaku, banyak kader persyarikatan Muhammadiyah yang berlibur ke DIY sering bertanya toko oleh-oleh yang beda dari biasanya.
"Dengan tempat oleh-oleh yang nyaman, lengkap dan produk dari persyarikatan Muhammadiyah akan jadi jujukan wisatawan, terutama kader Muhammadiyah saat berlibur ke DIY," ungkapnya