SOLO – Geliat kehidupan malam di Kota Solo terasa belum lengkap tanpa kehadiran warung makan sederhana di pinggir jalan yang menyajikan hidangan hangat hingga dini hari.
Bagi banyak orang, tempat ini dikenal sebagai angkringan. Namun bagi warga Surakarta, nama yang lebih autentik adalah HIK, singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung.
Lebih dari sekadar tempat mencari makan malam, HIK telah menjadi bagian dari identitas budaya Kota Solo. Warung sederhana beratap tenda ini menjadi ruang berkumpul berbagai kalangan, dari pelajar, pekerja, seniman, hingga wisatawan, tanpa memandang status sosial.
Berawal dari Pedagang Pikulan Desa
Sejarah HIK di Solo bermula pada pertengahan abad ke-20. Saat itu, para pedagang dari desa-desa sekitar Surakarta, seperti Klaten dan Cawas, datang ke kota dengan memikul dagangan menggunakan bambu.
Dalam dua keranjang yang dipikul, mereka membawa teko tembaga berisi minuman hangat, nasi bungkus berukuran kecil, serta berbagai camilan sederhana. Penerangan mereka hanya mengandalkan lampu senthir, lampu minyak tradisional yang menjadi ciri khas angkringan tempo dulu.
Baca Juga: Museum Radya Pustaka Solo, Museum Tertua di Indonesia yang Menyimpan Jejak Peradaban Nusantara
Para pedagang tersebut melayani pekerja malam dan warga kota yang membutuhkan makanan hangat dengan harga terjangkau.
Dari Pikulan Menjadi Gerobak Kayu Ikonik
Seiring perkembangan zaman, HIK mengalami transformasi dari pedagang keliling menjadi warung menetap menggunakan gerobak kayu.
Gerobak tersebut kemudian dilengkapi tenda sederhana dan bangku panjang dari kayu yang memungkinkan pengunjung duduk santai sambil menikmati suasana malam Kota Solo.
Meski tampilannya berubah, cita rasa dan konsep HIK tetap dipertahankan. Kesederhanaan justru menjadi daya tarik utama yang membuat kuliner ini terus bertahan lintas generasi.
Menu Sederhana yang Melegenda
Salah satu ciri khas HIK adalah pilihan menu yang sederhana namun kaya rasa. Pengunjung dapat menikmati berbagai hidangan dengan harga yang ramah di kantong.
Beberapa menu favorit di HIK Solo antara lain:
-
Nasi kucing, nasi bungkus berukuran kecil dengan lauk sederhana seperti sambal, teri, atau oseng.
-
Sundukan atau sate-satean, mulai dari sate usus, sate telur puyuh, sate ati ampela, hingga sate bakso.
-
Aneka gorengan hangat, seperti tempe, tahu, pisang goreng, dan bakwan.
-
Minuman khas teh nasgitel, akronim dari panas, legi, kenthel, yang menjadi teman sempurna menikmati malam di Solo.
Baca Juga: Sehari Sebelum Hari Orangutan Sedunia, Orangutan Solo Safari Malah Kabur Duluan ke Jalan Raya
Keunikan menu HIK bukan hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada porsinya yang memungkinkan pengunjung mencoba berbagai pilihan sekaligus.
Simbol Kehangatan dan Kebersamaan Warga Solo
Di balik kesederhanaannya, HIK menyimpan makna yang lebih dalam bagi masyarakat Surakarta. Warung HIK menjadi tempat berbincang, berdiskusi, hingga menjalin keakraban tanpa sekat.
Tak heran jika HIK selalu dipenuhi beragam kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, komunitas seni, hingga wisatawan yang ingin merasakan atmosfer asli Kota Solo.
Tradisi kuliner ini menjadi bukti bahwa kehangatan sebuah kota tidak selalu hadir dari restoran mewah, melainkan dari ruang-ruang sederhana yang menghadirkan kebersamaan.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Solo, menikmati seporsi HIK bukan hanya soal mencicipi makanan khas, tetapi juga merasakan langsung denyut kehidupan malam dan keramahan masyarakat Kota Bengawan yang tetap lestari hingga kini.
Editor : Bahana.