LUMAJANG — Salah satu pemandangan yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khas Ranu Kumbolo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kini berubah. Pohon tumbang yang kerap dijadikan latar foto oleh para pendaki dilaporkan hangus akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Semeru.
Kondisi tersebut terlihat setelah kobaran api menjalar di kawasan sekitar Ranu Kumbolo. Sejumlah vegetasi tampak menghitam dan terbakar. Pohon tumbang yang sebelumnya menjadi salah satu titik favorit untuk mengabadikan perjalanan pendakian kini hanya menyisakan bagian yang hangus.
Informasi mengenai kondisi pohon tersebut beredar melalui media sosial setelah sejumlah pendaki membagikan dokumentasi terbaru kawasan Ranu Kumbolo. Dalam foto dan video yang beredar, perubahan kondisi pohon terlihat cukup jelas dibandingkan dengan sebelumnya.
Kabar tersebut sontak menarik perhatian warganet, terutama kalangan pendaki. Pohon tumbang itu selama ini tidak sekadar menjadi objek fotografi, tetapi juga menjadi bagian dari kenangan banyak orang yang pernah melakukan perjalanan menuju Ranu Kumbolo.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Kolom Abu Capai 2.100 Meter
Namun, kerusakan akibat kebakaran jauh lebih luas daripada hilangnya satu pohon. Vegetasi di kawasan sekitar danau juga terdampak kobaran api yang melanda wilayah TNBTS.
Berdasarkan data sementara hingga 1 September 2026, luas kawasan TNBTS yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 3.072 hektare. Dari angka tersebut, wilayah Ranu Kumbolo menjadi salah satu kawasan yang mengalami dampak paling besar, dengan area terdampak sekitar 1.887,07 hektare.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan penanganan kebakaran masih terus dilakukan. Hasil pemantauan dari udara sebelumnya menunjukkan adanya sejumlah titik api di sekitar Ranu Kumbolo.
Kondisi geografis kawasan Gunung Semeru menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Medan yang terjal menyulitkan mobilisasi petugas, sementara hembusan angin berpotensi membuat api kembali menyebar ke area lain.
Tim gabungan kemudian melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan kebakaran. Pemadaman dilakukan secara manual melalui pembasahan, sekaligus mendapat dukungan operasi water bombing menggunakan helikopter.
Petugas juga melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan tidak muncul kembali titik api di kawasan yang telah ditangani. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas dan kembali mengancam kawasan hutan di sekitar Gunung Semeru.
Demi keselamatan pengunjung sekaligus mendukung proses penanganan karhutla, jalur pendakian Gunung Semeru sebelumnya ditutup sementara. Sebanyak 172 pendaki yang berada di kawasan Ranu Kumbolo telah dievakuasi dan dilaporkan dalam kondisi selamat.
Rusaknya pohon tumbang yang selama ini menjadi spot foto ikonik menjadi salah satu gambaran nyata dampak karhutla terhadap kawasan wisata alam.
Baca Juga: Berkendara Tetap Nyaman Saat Hujan Abu dan Asap, Simak Tipsnya
Bagi para pendaki, perubahan tersebut bukan hanya kehilangan sebuah objek untuk berfoto, tetapi juga hilangnya bagian dari lanskap yang selama ini melekat dengan pengalaman mendaki Gunung Semeru.
Kerusakan vegetasi di Ranu Kumbolo sekaligus menjadi pengingat bahwa kawasan konservasi memiliki ekosistem yang rentan terhadap kebakaran. Pemulihan kawasan nantinya membutuhkan waktu panjang agar lingkungan yang terdampak dapat kembali pulih secara alami.