MAGELANG – Bagi pengguna jalan yang sering melintas di jalur Magelang–Purworejo, keberadaan Makam Ki Angkong mungkin sudah tidak asing lagi. Makam yang berada di tepi jalan raya, tepatnya di Dusun Sabrang, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, ini dikenal karena tradisi unik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, yakni melempar uang saat melintas.
Tradisi tersebut masih dilakukan sebagian pengendara yang melintas di kawasan tersebut. Uang yang dilempar biasanya berupa pecahan kecil dan ditujukan ke area sekitar makam sebagai bagian dari kebiasaan yang berkembang di masyarakat.
Cerita tentang Makam Ki Angkong tidak bisa dipisahkan dari karakter jalur Magelang–Purworejo yang sejak lama dikenal memiliki tanjakan, turunan, tikungan tajam, dan medan yang cukup menantang bagi pengendara.
Di tengah kondisi jalan tersebut, berkembang kepercayaan di masyarakat bahwa melempar uang di sekitar makam menjadi bentuk ikhtiar atau doa untuk memohon keselamatan selama perjalanan. Kepercayaan ini merupakan bagian dari tradisi dan cerita rakyat yang hidup di masyarakat setempat, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Karena diwariskan secara turun-temurun, kebiasaan tersebut masih terus dikenal hingga sekarang.
Baca Juga: Trekking Santai Sambil Menikmati Merapi, Deles Indah Klaten Cocok untuk Pemula
Siapa Sosok Ki Angkong?
Identitas Ki Angkong memiliki beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Salah satu cerita yang paling banyak dikenal menyebut sosok tersebut sebagai seorang kiai bernama Ahwan yang berasal dari Yogyakarta.
Makam Ki Angkong dipercaya berada di bawah pohon beringin tua di pinggir jalan. Keberadaan makam yang telah ada sejak lama membuat kisah tentang tokoh tersebut semakin melekat dalam ingatan masyarakat sekitar.
Meski begitu, asal-usul dan riwayat Ki Angkong lebih banyak hidup melalui cerita lisan yang berkembang dari generasi ke generasi.
Pemandangan uang receh di sekitar makam menjadi hal yang biasa dijumpai. Setelah dilempar pengendara, uang tersebut biasanya dipungut oleh warga sekitar.
Bagi sebagian masyarakat, tindakan melempar uang dimaknai sebagai bentuk sedekah. Seiring waktu, kebiasaan itu tidak hanya menjadi ritual yang dipercaya sebagian orang, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi lokal yang terus bertahan.
Tradisi ini juga menarik perhatian banyak pengguna jalan maupun wisatawan yang baru pertama kali melintas di kawasan Salaman.
Di balik cerita dan tradisi yang berkembang, kondisi nyata jalur Magelang–Purworejo tetap menjadi faktor penting dalam keselamatan perjalanan. Jalan yang berkelok, menanjak, dan menurun mengharuskan pengendara memastikan kendaraan dalam kondisi prima.
Pengemudi juga disarankan menjaga kecepatan, memastikan sistem pengereman berfungsi dengan baik, menjaga jarak aman, serta tetap fokus selama berkendara.
Baca Juga: Bukan di Madinah, Masjid Mirip Nabawi Ini Ternyata Ada di Sleman
Kepercayaan mengenai Makam Ki Angkong merupakan bagian dari budaya masyarakat setempat. Namun, keselamatan di jalan tetap ditentukan oleh kewaspadaan pengendara dan kesiapan kendaraan yang digunakan.
Cerita yang Masih Melekat di Jalur Magelang–Purworejo
Hingga kini, Makam Ki Angkong masih menjadi salah satu cerita unik yang melekat di jalur Magelang–Purworejo. Bagi masyarakat sekitar, tempat ini bukan hanya makam yang dikaitkan dengan kisah mistis, tetapi juga bagian dari sejarah, tradisi, dan ingatan kolektif yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Tradisi lempar uang di Makam Ki Angkong menjadi contoh bagaimana cerita rakyat, budaya lokal, dan kondisi geografis sebuah jalur perjalanan dapat berpadu dan bertahan selama bertahun-tahun.
Editor : Bahana.