Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Tokoh Wayang: Pandhu Dewanata, Kisah Singkat Hingga Menjadi Raja

Meitika Candra Lantiva • Sabtu, 9 November 2024 | 19:21 WIB
Pandhu Dewanata.
Pandhu Dewanata.


RADAR PURWOREJO – Pandhu adalah putra kedua dari Begawan Abiyasa, dan merupakan adik dari Drestarastra.

Ibu dari Pandhu merupakan permaisuri kedua yang bernama Dewi Ambalika atau Dewi Ambiki.

Pandhu dilahirkan dilahirkan dengan fisik yang kurang sempurna, ia berwajah pucat dan lehernya tengeng.

Konon, hal itu disebabkan karena saat Dewi Ambalika memadu kasih dengan Begawan Abiyasa, Dewi Ambalika takut terhadap rupa Abiyasa yang hitam.

Dewi Ambalika saat itu berwajah pucat dan menoleh karena takut pada Begawan Abiyasa.

Oleh karena itu, bayi yang dilahirkan Dewi Ambalika berwajah pucat dan lehernya tengeng, tapi bayi itu berwajah tampan.

Bayi itu diberi nama Pandhu.


Pandhu memiliki dua saudara, kakanya adalah Drestarastra dan adiknya adalah Widura.

Ketiga bersaudara itu dididik di lingkungan istana sehingga mahir mengenai pemerintahan, keprajuritan, kesusastraaan, dan sebagainya.

Karena itu setelah dewasa Pandhu tumbuh menjadi seorang ksatria yang hebat.


Suatu hari Pandhu diutus ayahnya untuk mengikuti sayembara memanah burung di dalam sangkar yang berputar, di negara Mandura.

Setibanya Pandhu di Mandura, ternyata sayembara telah dimenangkan oleh Narasoma.

Saat itu Narasoma melihat kedatangan Pandhu yang terlihat tidak lincah dan kurang meyakinkan, akhirnya menantang Pandhu untuk memanah burung di dalam sangkar yang berputar.

Tapi tidak disangka, Pandhu bisa memanah burung di sangkar itu. Melihat itu Narasoma sangat marah, dan mengajak duel Pandhu.

Tetap saja, Narasoma kalah oleh Pandhu, yang mengakibatkan Narasoma harus menyerahkan putri Mandura yaitu Kunti, dan adiknya yaitu Dewi Madrim kepada Pndhu.


Singkat cerita Pandhu akan kembali ke negara Astinapura dengan dua putri, tapi ditengah perjalanan, Pandhu bertemu dengan Arya Sangkuni yang awalnya ingin mengikuti sayembara di Mandura juga.

Ketika Sangkuni mengetahui bahwa sayembara telah selesai, dan dimenangkan oleh Pandhu yang ditemuinya, ia lalu mengajak Pandhu untuk perang tanding.

Tentu Sangkuni kalah, dan berakibat harus menyerahkan adiknya ke Pandhu, yaitu Dewi Gendari.


Setelah sampai di Astinapura, Pandhu menyerahkan salah satu putri yang dibawanya ke Drestarastra, kakaknya. Drestarastra pun memilih dewi Gendari untuk diperistri.


Disaat yang hampir bersamaan, Begawan Abiyasa, ayah Pandhu, berkeinginan untuk meletakkan jabatannya sebagai Raja Astinapura, dan ingin memberikan jabatan itu ke salah satu anaknya yang telah dewasa semua.

Begawan Abiyasa pun meminta persetujuan dari Resi Bhisma.

Adapun anak dari Begawan Abiyasa yang ditunjjuk untuk menggantikannya sebagai raja dan telah mendapatkan persetujuan dari resi Bhisma adalah Pandhu.

Hal ini juga dapat dikaitkan dengan kebutaan Drestaratra sebagai anak pertama, tapi hanya di beri jabatan sebagai Adipati di Gajahoya, ditemani iparnya, Arya Sangkuni.

Sedangkan Widura tetap mengikuti Pandhu. Setelah menjadi Raja, Pandhu mendapat gelar Pandhudewanata.


Selama Pandhu menjadi raja, ia memerintah dengan sangat adil dan bijaksana, juga berusaha memperluas wilayah kekuasaanya.

Tidak ada negara atau raja lain yang berani mengganggu ketentraman negara Astinapura.


Pandhudewanata memiliki lima putra dari dua istrinya, yang dikenal dengan sebutan Pandawa.

Yaitu Puntadewa, Bratasena, dan Permadi atau Arjuna, anak dari Dewi Kunti.

Sedangkan dari Dewi Madrim memiliki anak kembar, yaitu Pinten dan Tangsen atau yang lebih dikenal dengan Nakula dan Sadewa. (Shofiyullah)



Editor : Meitika Candra Lantiva
#Dewi Ambalika #Abiyasa #Pandhu Dewanata #Menjadi Raja #Wayang #Tokoh #Mengenal #kisah